Majikan Penyiram Air Panas ART Diganjar 6 Tahun Penjara

Terdakwa Desak Made Wiratningsih dengan tangan diborgol sambil menundukkan kepala. (foto : ist)

Beritabalionline.com – Terdakwa yang telah melakukan tindak penganiayaan dan penyiraman air panas terhadap asisten rumah tangga (ART)-nya, Desak Made Wiratningsih dijatuhi hukuman enam tahun penjara di Pengadilan Negeri (PN) Gianyar, Selasa (12/11/2019).

Selain kurungan badan selama enam tahun, majelis hakim yang diketuai Ida Ayu Sri Astuti Adriyanthi Widja itu juga menjatuhkan huhuman denda sebesar Rp42 juta subsider 3 bulan penjara kepada terdakwa Desak Made Wiratningsih yang akrab disapa Desak Wirat.

Menanggapi putusan sidang tersebut, Supriyono SH MH, kuasa hukum korban penyiraman air panas, justru malah menyayangkan vonis majelis hakim yang dinilainya terlalu ringan itu.

Seharusnya, lanjut dia, vonis hakim disertai poin tambahan, yang antara lain bisa berupa ganti rugi terhadap para korban. “Kedua korban, yakni Eka Febriyanti (21) dan Santi Yuni Astutik (19), mestinya mendapatkan ganti rugi dari terdakwa, untuk menaikkan derajat perekonomian mereka. Misalnya, nanti bisa digunakan sebagai modal usaha,” ujar Supriyono melalui sambungan komunikasi handphone, Rabu (13/11) siang.

Supriyono melanjutkan, mengenai vonis 6 tahun penjara pihaknya tidak mempersoalkan. Justru yang mesti mendapat perhatian adalah pemberian ganti rugi, karena korban selama ini mengalami traumatis mendalam akibat kekerasan yang diterimanya. “Ini juga mengacu pada Pasal 10 KUHP, agar ada poin tambahan yaitu pemberian ganti rugi untuk korban,” ujarnya.

Sementara itu, kronologis kejadian yang menimpa kedua korban, bermula pada hari Selasa tanggal 7 Mei 2019 korban Eka Febriyanti disuruh mencari gunting besi berwarna merah oleh majikannya (Desak Made Wiratningsih).

“Kalau tidak ketemu akan saya siram dengan air panas,” ujar Desak Wirat, panggilan akrab Desak Made Wiratningsih .

BACA JUGA:  Terbukti Salahgunakan Narkoba, Arsitek Asal Rusia Divonis 10 Bulan

Ancaman ini didengar oleh tersangka II Kadek Erik Diantara serta adik tiri korban, Santi Yuni Astutik, yang juga merupakan korban II.

Setelah dicari dalam beberapa lama, gunting tidak kunjung ditemukan, membuat Desak Wirat semakin naik pitam.  Tanpa canggung-canggung, air mendidih yang sudah disiapkan di atas kompor, secangkir demi secangkir disiramkan oleh Desak Wirat ke bagian tubuh korban Eka.

Selanjutnya Desak Wirat menyuruh Kadek Erik dan Santi untuk bergantian menyiram Eka dengan air panas.

Tidak hanya terhadap Eka, korban Santi pun sering mendapat perlakuan yang sama saat bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah terdakwa Desak Wirat.

Tidak kuat menahan siksaan, Eka berhasil kabur dari rumah majikannya dan pergi mencari bibinya di Nusa Dua, Kabupaten Badung.

Tak lama kemudian kasus tersebut bergulir ke kancah hukum, yakni ketika Eka yang berasal dari Jember, Jawa Timur, melaporkan kekerasan yang dialaminya ke Polda Bali. (itn)