Jadi Kurir Sabu, Mahasiswa di Bali Divonis 14 Tahun Penjara

Terdakwa Angga Fredy Aditya divonis 14 tahun penjara oleh Hakim PN Denpasar. (foto : SAR)

Beritabalionline.com – Seorang mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Bali, Angga Fredy Aditya yang ditangkap dengan barang bukti 36 paket narkotika jenis sabu seberat 66,79 gram, hanya bisa menundukkan kepala saat mendengar dirinya divonis 14 tahun penjara.

Dalam sidang Selasa (5/11/2019) majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Denpasar pimpinan Made Pasek dalam amar putusannya menyatakan terdakwa terbukti bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 114 ayat (2) UU narkotika.

“Menyatakan terdakwa terbukti bersalah menjadi perantara dalam jual beli narkotika golongan 1 dalam bentuk bukan tanaman yang beratnya melebihi 5 gram. oleh karena itu menghukum terdakwa dengan pidana penjara selama 14 tahun,” tegas hakim Made Pasek dalam putusannya.

Putusan ini lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) I Dewa Gede Ngurah Sastradi yang sebelumnya menuntut terdakwa dengan pidana penjara selama 18 tahun.

Selain menghukum penjara majelis hakim juga menghukum terdakwa untuk membayar denda sebesar Rp5 miliar. “Dengan ketentuan apabila tidak dibayar diganti dengan hukuman kurungan selama 3 bulan,” pungkas hakim.

Atas putusan itu terdakwa didampingi pengacara dari PBH Peradi Denpasar menyatakan menerima sementara jaksa menyatakan pikir-pikir. “Kami menerima yang mulia,” ujar ujar terdakwa melalui penasehat hukumnya.

Diketahui, sebelum terdakwa ditangkap polisi, terdakwa terlebih dahulu dihubungi oleh orang yang bernama Putu Ari pada tanggal 15 Juni 2019 sekira pukul 16.30 WITA.

Terdakwa oleh Putu Ari diminta untuk mengambil kiriman sabu di Jalan Sedap Malam, Denpasar. Setelah itu terdakwa langsung menuju alamat yang dimaksud dan menemukan sabu yang disimpan dalam plastik pembalut wanita serta membawa pulang ke rumahnya di Jalan Gunung Resimuka Barat.

“Sampai dirumahnya, terdakwa lalu menghitung jumlah sabu yang seluruhnya ada 36 paket yang oleh terdakwa dimasukkan kedalam sebuah dompet dan disimpan diatas genteng,” ujar jaksa Kejati Bali itu dalam surat dakwaannya.

Namun malam harinya, terdakwa didatangi oleh petugas dari Polda Bali yang melakukan penangkapan dan penggeledahan. Saat polisi melakukan penggeledahan ditempat tinggal terdakwa, polisi tidak menemukan apa-apa.

Bahkan dompet warna loreng yang didalamnya berisika 36 paket sabu milik terdakwa juga sudah tidak ada ditempat semula. Setelah dilakukan pemeriksaan lebih mendalam, dompet berisikan sabu itu oleh paman terdakwa yang bernama Agus Triono dipindahkan diatas tower air.

“Kepada petugas terdakwa mengakui sabu itu adalah miliknya yang nantinya akan diberikan kepada pembeli atas perintah Putu Ari dan terdakwa mendapat upah dari Putu Ari sebesar Rp 200.000,” pungkas jaksa. (sar)