Musim Kemarau Segera Berakhir, BMKG: November Mulai Turun Hujan

Dampak musim kemarau dibeberapa wilayah Indonesia. (foto : ist)

Beritabalionline.com – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan awal musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia berlangsung pada bulan November 2019.

“Kecuali untuk wilayah Sumatera dan Kalimantan, hujan sudah mulai sejak pertengahan Oktober 2019,” terang Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati dalam siaran pers, Jumat (1/11/2019).

Berdasarkan hasil monitoring dan analisa dinamika atmosfer, BMKG memprediksi bahwa pada tahun 2020 tidak terindikasi akan terjadi El- Nino kuat. NOAA dan NASA (Amerika) serta JAMSTEC (Jepang) pun memprediksi hasil yang serupa.

Karnawati mengatakan, wilayah Indonesia mengalami musim kemarau panjang di tahun 2019. Kondisi ini mengakibatkan kekeringan yang berdampak pada ketersediaan air bersih, kebakaran hutan dan lahan, serta suhu panas.

“Kondisi iklim di Indonesia sangat dikontrol oleh kondisi suhu muka air laut di Samudera Hindia sebelah Barat, Barat Daya Pulau Sumatera, Samudera Pasifik, serta di perairan laut Indonesia,” jelasnya.

Fenomena yang saat ini sedang terjadi karena rendahnya suhu permukaan laut daripada suhu normalnya yang berkisar antara 26 – 27 derajat celcius di wilayah perairan Indonesia bagian selatan dan barat, sehingga berimplikasi pada kurangnya pembentukan awan di wilayah Indonesia.

“Dengan adanya fenomena tersebut, mengakibatkan awal musim hujan periode 2019/2020 mengalami kemuduran,” ucapnya.

Dikatakan, tahun 2020 diperkirakan tidak ada potensi anomali iklim yang berdampak pada curah hujan di wilayah Indonesia. Curah hujan akan cenderung sama dengan pola iklim normal (klimatologisnya).

Musim kemarau umumnya akan dimulai pada bulan April – Mei hingga Oktober 2020. Sedangkan wilayah di dekat ekuator seperti Aceh, Sumatera Utara, dan Riau, musim kemarau pertama akan dimulai pada Februari – Maret 2020.

“Sehingga tetap perlu diwaspadai untuk potensi kondisi kering, yang dapat berdampak karhutla di awal tahun pada wilayah dekat ekuator tersebut,” paparnya.

BMKG mengimbau agar masyarakat mengoptimalkan usaha menjaga cadangan air melalui optimalisasi manajemen operasional air waduk saat musim penghujan dan melalui gerakan memanen air hujan.

Teknologi Modifikasi Cuaca dapat diterapkan sebagai alternatif pada saat peralihan kedua musim tersebut, terutama bagi wilayah yang rawan kekeringan dan karhutla. (agw)