Saksi Kasus Dugaan Penipuan Sebut Korban Tergiur karena Terdakwa Menjabat Wakil Bupati

Saksi korban, Eska Kanasut memberi keterangan di persidangan PN Denpasar. (foto : SAR)

Beritabalionline.com – Sidang kasus dugaan penipuan, penggelapan, pemalsuan dan tindak pidana pencucian uang dengan terdakwa mantan Wagub Bali, I Ketut Sudikerta dan dua rekannya, Wayan Wakil serta Anak Agung Ngurah Agung dalam persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, Selasa (15/10/2019) dilanjutkan agenda pemeriksaan saksi.

Dari tiga terdakwa, satu orang atas nama Wayan Wakil tidak bisa hadir dengan alasan sakit yang dideritanya semakin parah. Ini dibuktikan dengan hasil rekam medis yang dibawa oleh tim kuasa hukum terdakwa Wakil.

Sementara dimuka sidang pimpinan Hakim Esthar Oktavi, tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang dikomandoi Eddy Artha Wijaya menghadirkan dua orang saksi, yaitu staf notaris Sujurni serta Direktur Property PT Maspion Grup Surabaya, Eska Kanasut.

Eska Kanasut yang diperiksa lebih awal membenarkan bahwa terjadinya kasus ini berawal saat pihak Maspion Grup melalui saksi korban, Alim Markus yang berencana membangun hotel di Bali di tahun 2012 silam.

Atas rencana itu, saksi diberi tugas oleh korban untuk mencari lokasi tanah yang bagus. Namun dalam perjalanan, korban Alim Markus meminta kepada Hendri Kaunang dan Wayan Santoso untuk mencarikan lokasi tanah.

Saksi sendiri mengaku sudah pernah melihat lokasi tanah yang diantar oleh Wayan Santoso. Di lokasi tanah yaitu di Balangan, saksi mengaku ada bangunan rumah yang diketahui adalah rumah milik terdakwa Wayan Wakil.

Singkat cerita, korban dengan terdakwa Sudikerta sepakat dengan harga yang ditawarkan. “Setahu saya pak Alim Markus melakukan pembayaran sebanyak dua kali. Yang pertama dibayar Rp58 miliar, sedangkan yang kedua dibayar Rp89 miliar,” terang saksi.

BACA JUGA:  Polisi Gagalkan Penyelundupan 100 Kg Ganja Masuk Bali

Diakui oleh saksi, uang yang digunakan untuk pembayaran tahap II diambil dari penjaminan sertifikat tanah di Bank Panin. Saksi juga menceritakan bagaimana korban Alim Markus bisa membeli tanah yang kabarnya ditawarkan langsung oleh Sudikerta itu.

Awalnya pihak Alim Markus melakukan pengecekan sertifikat di BPN. Dan hasilnya, dari tiga kali pengecekan, sertifikat tidak sedang bermasalah. Ditambah lagi karena saat melakukan transaksi terdakwa Sudikerta masih menjabat sebagai Wakil Bupati Badung, sehingga Alim Markus yakin bahwa segala proses perizinan akan mudah.

“Saksi tahu kemana uang ditransfer oleh korban?,” tanya hakim yang dijawab saksi uang ditransfer oleh korban ke rekening PT. Pecatu Bangun Gemilang (PBG) yang mana dalam PT tersebut ada nama istri terdakwa Sudikerta, Gunawan Priambodo dan terdakwa Wayan Wakil.

Namun saat ditanya kemana saja uang yang dikirim korban ke rekening PT. PBG, saksi menjawab tidak tahu.”Kalau itu saya tidak tahu, yang saya tahu bahwa korban sudah membayar lunas dan pembayaran dilakukan dua tahap.” pungkasnya. (sar)