Aktivis HAM dan Penggiat Anti Korupsi, HS Dillon Akhiri Hidupnya di Pulau Dewata

HS Dillon. (foto : Tempo.co)

Beritabalionline.com – Aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) dan Penggiat anti-Korupsi, Harbrinderjit Singh Dillon atau yang akrab dipanggil HS Dillon meninggal dunia pada pukul 18.00 WITA di Rumah Sakit Siloam, Kuta, Kabupaten Badung, Senin (15/9/2019). Ia meninggal dalam usia 74 tahun.

Tokoh yang masih menjadi anggota komnas HAM ini meninggal karena komplikasi penyakit jantung dan paru-paru.

Menurut penuturan putra almarhum, Haryasetyaka Dillon Dillon saat ditemui awak media di RS Siloam, Kuta, almarhum sudah sebulan dirawat di Rumah Sakit Siloam sejak 19 Agustus 2019.

“Bapak sudah dirawat sebulan yang lalu di sini, (penyakitnya) komplikasi jantung dan paru-paru,” terangnya.

Dia juga menjelaskan, bahwa almarhum ke Pulau Dewata bersama istri tercintanya untuk liburan.

“Beliau di sini lagi liburan bersama Ibu saya dan bisa dibilang bulan madu kedua. Jadi, beliau bersama istri terkasih menikmati pulau indahnya alam Pulau Dewata ini dan saya yakin sebagai anaknya Bapak telah memilih Pulau Dewata ini sebagai rumah peristirahatan terakhir,” katanya.

Pihak keluarga HS Dillon secara resmi menyerahkan jenasah Dillon kepada negara bertempat di Rumah Duka RSAD Udayana, Denpasar untuk dikremasi di Krematorium Mumbul, Nusa Dua, Kabupaten Badung pada Selasa (16/9/2019)

Upacara penyerahan jenazah HS Dillon kepada negara dilakukan oleh putra sulung almarhum, Harysetyaka Singh Dillon. Kemudian, jenazah diterima secara simbolis oleh Pangdam IX/Udayana Mayor Jenderal Benny Susianto yang bertugas sebagai inspektur upacara pelepasan jenazah.

“Dengan ini saya mewakili keluarga menyerahkan jenazah Harbrinderjit Singh Dillon dari keluarga ke negara,” kata Harysetyaka.

“Beliau mendapatkan hak untuk diupacarai secara militer karena beliau dianugerahi Bintang Jasa Mahaputra Utama, yang merupakan penghargaan yang diberikan oleh negara,” ujar  Pangdam IX/Udayana Mayjen TNI Benny Susianto, S.I.P.

BACA JUGA:  Tembok Rutan Bangli Roboh Akibat Banjir, 290 Napi Tak Boleh Keluar Sel

“Dan pastinya negara memberikan bukan kepada orang yang sembarangan. Sehingga kami patut juga memberikan penghormatan terakhir yang terbaik kepada beliau,” lanjut Pangdam selaku Inspektur Upacara pemberangkatan jenazah almarhum H.S. Dillon, yang digelar di Rumah Duka RS. Angkatan Darat, Denpasar, Selasa (17/9/2019).

Turut hadir dalam upacara pelepasan seperti Danrem 163/WSA, Para Staf Ahli Pangdam IX/Udy, Para Asisten Kasdam IX/Udy, Para Kabalakdam IX/Udy, Dandim 1611/Badung, pihak keluarga dan kerabat almarhum.

Pada kesempatan tersebut, Pangdam juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga yang ditinggalkan. Harapannya, pelajaran positif yang ditinggalkan beliau dapat diteladani.

“Tentunya kami juga merasa kehilangan karena pasti beliau adalah bagian dari pada masyarakat bangsa ini, yang memberikan kontribusi positif yang begitu besar untuk kehidupan berbangsa dan bernegara, dan patut diteladani juga apa yang telah beliau berikan kepada kita semua,” ungkap Pangdam.

“Hari ini saya pimpin upacara pelepasan jenazah almarhum ke tempat krematorium untuk dikremasi karena beliau mendapatkan hak diupacarai secara militer untuk pemakaman. Jenasah dikremasi setelah itu abunya akan dimakamkan ke TMP Kalibata,” kata Pangdam, yang memimpin upacara pelepasan jenazah di Rumah Duka RSAD Udayana,

“Saya atas nama negara bangsa dan Tentara Nasional Indonesia menerima Harbrinderjit Singh Dillon. Selanjutnya akan diberangkatkan ke Krematorium Taman Mumbul, Nusa Dua untuk diupacarakan secara militer,” ujar Benny.

Usai upacara pelepasan, kemudian keluarga almarhum meninggalkan rumah duka cita RSAD Udayana dan membawa jenazah HS Dillon untuk dikremasi di Krematorium Mumbul, Nusa Dua pada Selasa (16/9/2019) sekitar pukul 14.00 WITA.

Upacara militer pelepasan jenazah HS Dillon. (foto : ist)  

 

Konsens sama Nasib Petani

Untuk diketahui HS Dillon adalah salah satu tokoh HAM dan anti korupsi terdepan di Indonesia. Dia juga dikenal sebagai pakar pertanian dan sosial ekonomi.

BACA JUGA:  Rapat Paripurna APBD Perubahan 2020, PAD Kabupaten Karangasem Turun 19,87 Persen

Semasa hidupnya, mendiang HS Dillon pernah menjabat sebagai Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Pengembangan dan Perdagangan Komoditas dari tahun 1990 sampai tahun 1996.

Ia juga menjadi  Anggota Dewan Ekonomi Nasional di tahun 1999 sampai 200. Sempat pula dipercaya sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Penanggulangan Kemiskinan dari tahun 2011 sampai 2014.

HS Dillon lahir di Medan, Sumatera Utara, lima bulan sebelum Indonesia merdeka, tepatnya di tanggal 23 April 1945. Dillon merupakan putra bungsu dari pasangan Partap Singh dan Dhan Kaur, salah satu keluarga Singh terkemuka di Medan.

HS Dillon adalah penganut agama Sikh dan menempuh pendidikan di Universitas Cornell di Mew York, Amerika Serikat.

Sejak kecil, Dillon sudah tertarik dengan masalah pertanian dan pedesaan. Ia melihat secara langsung pergulatan hidup para petani, orang desa, dan buruh perkebunan dalam mengarungi hidup. Dillon seringkali menghela napas panjang setiap melihat nasib buruh perkebunan di Sumatera Utara yang tetap menderita meski telah bekerja dengan habis-habisan.

Sebaliknya, para administratur dan elite perkebunan justru hidup berfoya-foya. Karena itulah ia termotivasi terjun total ke bidang pertanian. Dillon secara fasih menyuarakan kesengsaraan para petani dan buruh perkebunan.

Untuk mempelajari bidang pertanian lebih dalam, Dillon mengambil studi doktor di bidang itu di Cornell University, Ithaca, New York, Amerika Serikat pada tahun 1983. Disertasi doktoralnya yang berjudul Growth with Equity: the Case of the North Sumatera Smallholder Development Project telah mengantarkannya meraih gelar doktor di bidang ekonomi pertanian.

Semasa hidupnya, ia selalu bersemangat untuk berbicara mengenai pertanian dan nasib para petani di Indonesia. HS Dillon menganggap bahwa pertanian harus menjadi prioritas dalam proses pembangunan di Indonesia.

BACA JUGA:  Gunung Agung Kembali Erupsi, Lontarkan Lava Pijar Sejauh 3 Km

Berkat ide-idenya di bidang pertanian, Dillon terpilih menjadi orang Indonesia dan Asia pertama yang berhasil memenangkan pemilihan President, Graduate Students of Agriculture Economics di Cornell University. (tra/agw)