Kerajinan Glass Kaca Gianyar Diminati Pasar Ekspor

Salah seorang buruh saat beraktivitas di bengkel gelas milik Ida Bagus Satria Utama di desa Srongga Kaja, Gianyar.

Beritabalionline.com – Tidak semua kerajinan mengalami kelesuan ekspor, hal ini dibuktikan dari kerajinan glass hand made (kerajinan kaca tuang manual) di Gianyar yang semakin diminati pasar luar negeri ke Eropa atau Asia. Bahkan salah satu bengkel usaha kaca cair tuang di wilayah desa Sronggo, Gianyar sudah memiliki pesanan hingga 4 bulan ke depan.

Bahkan ada produk kaca tuang berupa gelas untuk minum anggur, yang sesungguhnya dibuat di Bali namun diberi label di luar negeri.

”Awalnya saya sebagai buruh pada usaha kerajinan kaca ini di Jimbaran, saya pelajari peralatan sampai cara kerja, akhirnya saya buka usaha sendiri,” kata Ida Bagus Satria Utama (40), salah satu pemilik usaha kerajinan kaca tuang, saat ditemui dibengkelnya di Desa Serongga Kaja, Gianyar, akgir pekan lalu.

Satria Utama menjelaskan di awal-awal usahanya tidak berjalan mulus, selain belum memiliki langganan juga belum terkenal seperti usaha kaca tuang lain. Dirinya memperkerjakan 8 orang tenaga loal, dididik dari awal sampai menguasai pekerjaan yang terbilang rumit. Selain kaca rawan pecah, juga bekerja pada suhu panas mencapai ribuan derajat.

Dari empat bulan lalu usahanya mulai menampakan hasil. Bahkan saat ini dirinya kewalahan melayani pesanan kaca tuang cair tersebut. “Biasanya pemesan membawa disaign, lalu kita buat. Kalau cocok tamu langsung pesan,” tuturnya senang. Kaca tuang cair tersebut dibuat menjadi gelas minum anggur, wine atau gelas model lain sesuai pesanan.

Dikatakannya, ada gelas anggur buatannya yang mencapai 500 pcs, setelah di luar negeri diberi label. Sehingga harganya menjadi mahal, “Kami tidak memiliki label, baru usaha kaca tuang cair,” tuturnya. Selain gelas minum, pesanan juga berupa pas bunga, tempat buah, atau pesanan lain sesuai disain yang diberikan pemesan.

Untuk kaca, biasanya dibeli dari pedagang kaca yang sudah pecah-pecah dengan harga 1 pick up Rp 1,5 juta. Sedangkan untuk akar kayu, seperti akar kayu Gamal, Jati satu truknnya bias mencapai Rp 50 juta. “Akar kayu Gamal atau jati sangat langka, semakin susah. Biasanya dating dari Buleleng atau Bangli,” terangnya.

Untuk pengerjaan, dirinya memiliki 3 mesin, mesin pencair, mesin blowing dan mesin lainnya untuk pekerjaan utama. Sedangkan untuk harga produksi kaca tuangnya variatif, tergantung besar kecil dan tingkat kerumitan pengerjaan. Hambatan yang dialami Satria Utama selain terkait modal untuk mengembangkan usaha, dirinya memiliki hambatan berupa tenaga kerja.(wrb)