Tari Kolosal Nusantara Mahardika Bangkitkan Jiwa Nasionalisme

Tari Kolosal Nusantara Mahardika yang membangkitan jiwa nasionalisme membius penonton di Lapangan Astina Gianyar.(foto: yesi)

Beritabalionline.com – Masih dalam rangkaian peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-74, Pemkab Gianyar menggelar pertunjukan tari kolosal bertema nasionalisme. Garapan tari kolosal dengan tema Nusantara Mahardika yang mengambil cerita sejarah perjuangan bangsa dari bersatunya nusantara hingga Indonesia Merdeka dan Perang Puputan I Gusti Ngurah Rai, membius seluruh penonton di Lapangan Astina Gianyar, Senin (19/8/2019) malam.

Pengarah seni garapan kolosal Nusantara Mahardika I Made Sidia menceritakan isi garapannya tentang sejarah perjuangan bangsa dari jaman kerajaan hingga masa penjajahan Belanda dan Puputan I Gusti Ngurah Rai. Dikatakan, tujuan dari garapan kolosalnya untuk membangkitkan rasa nasionalisme dan mengajak generasi penerus bangsa agar mampu mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonsia (NKRI).

”Cerita dimulai dari Kerajaan Majapahit, kemudian bagaimana Jepang ingin menguasai Indonesia setelah itu Indonesia merdeka dengan adanya bom di kota Nagasaki dan Hirosima yang melemahkan Jepang. Berkaca pada Perundingan Linggar Jati, pelan-pelan Belanda mendesak masuk ke Bali. Nah disanalah saya ingin mengangkat bagaimana I Gusti Ngurah Rai sebagai pahlawan kita di Bali memperjuangan Bali sampai puputan,” ujar Made Sidia yang juga ketua Sanggar Paripurna, Desa Bona.

Made Sidia melalui garapannya dan imbauannya juga berpesan kepada masyarakat agar betul-betul memahami perjuangan para pahlawan yang telah gugur. Memahami perjuangan tidak cukup dengan menyanyikan Indonesia Raya atau mengheningkan cipta. Tapi betul-betul dihayati dan ikut berjuang melawan penjajah. Penjajah saat ini yang perlu dihadapi adalah teknologi, bagaimana kita bisa menguasai teknologi dan melawan orang-orang yang ingin mengubah Pancasila dan menghancurkan NKRI.

”Melihat perjuangan para pahlawan memperjuangkan kemerdekaan, masa sekarang dengan mudah orang ingin mengubah Pancasila dan mengacaukan NKRI? Itu merupakan suatu bentuk penjajahan, maka itulah yang harus dihadapi sebagai generasi muda dan masyarakat agar NKRI tetap utuh,” pungkas Made Sidia.

BACA JUGA:  Tabung Kompor Meledak, Pasutri Asal Madura Alami Luka Bakar

Garapan kolosal yang sarat jiwa nasionalisme untuk menjaga Ibu Pertiwi dari penjajah, melibatkan 300 seniman yang didalamnya terdapat penyandang disabilitas. Garapan tersebut dibuka dengan persembahan senam dunia satu keluarga dari International Nature Love Asosiation Bali (INLA) yang bertujuan untuk Indonesia harmonis, dunia satu keluarga yang tanpa membedakan suku bangsa, ras dan agama. (yaw)