74 Orang Peroleh Penghargaan Pancasila 2019, Salah Satunya Iwan Fals

Iwan Fals.

Beritabalionline.com – Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) akan menyerahkan penghargaan kepada 74 ikon nusantara yang dinilai telah berkontribusi penuh dalam mengamalkan dan menyelaraskan kehidupan dengan ideologi Pancasila. Ke 74 nama itu dari latar bidang dan profesi yang berbeda telah diseleksi secara ketat kelaikannya.

Salah satu yang menerima penghargaan tersebut adalah musisi Iwan Fals untuk penghargaan kategori Seni Budaya dan Bidang Kreatif. Sedangkan satu-satunya putra dari Pulau Dewata yang juga mendapat penghargaan yang sama adalah I Wayan Suteja. Penghargaan diberikan sesuai dengan bidang keilmuan (olah raga, sciense dan inovasi, olah raga, seni budaya dan bidang kreatif, dan sosial enterpeneur).

“Awalnya ada 300 nama, lalu kami seleksi lagi jadi 100 dan terakhir didapat 74,” kata Direktur Sosialisasi Komunikasi dan Jaringan, Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Aris Heru Utomo di De Tjolomadoe, Solo, Jawa Tengah, Minggu (18/8/2019).

Aris menjelaskan seleksi dilakukan secara internal BPIP dengan dibantu tim eksternal untuk memberikan masukan dan penyaringan secara menyeluruh. Meski ada pro-kontra terhadap nama-nama didapat, Aris meyakini, sementara ini 74 nama ini adalah yang laik menerima penghargaan bergengsi BPIP di tahun 2019.

“Data-data telah kami cocokkan, dan mengapa 74 karena disesuaikan dengan usia kemerdekaan Republik Indonesia,” ungkapnya.

Penghargaan diberikan di lokasi ikonik di kota Solo bernama De Tjolomadoe akan menjadi saksinya. Ternyata ini alasannya.

“Pilihan tempat di sini karena gedung ini ikonik, dan peninggalan zaman dulu bisa buat pembelajaran, dulu kita pernah punya pabrik gula yang memiliki pergerakan perjuangan,” kata Aris.

De Tjolomadoe adalah bekas bangunan pabrik gula yang berdiri sejak tahun 1861 di Karanganyar oleh Mangkunegaran IV. Bekas bangunan ini memiliki luas seluas 1,3 ha di atas lahan 6,4 ha.

BACA JUGA:  Yasonna Laoly Mundur dari Jabatan Menkum HAM

Revitalisasi dari bangunan yang terbengkalai selama 20 tahun ini dilakukan dengan tetap mempertahankan nilai dan kekayaan historis. Terlihat seperti sederet mesin pabrik gula dengan ukurang sangat besar, dijaga dan utuh bentuknya.

Jaraknya tidak jauh dari Bandara Adi Sumarmo Solo, bila melihat peta hanya 4,5 kilometer dan bisa ditempuh dalam waktu 15 menit menggunakan mobil.

Selain pengenalan nilai historis, pengunjung De Tjolomadoe akan disuguhkan oleh tawaran makan dan minuman yang terletak di area kantin. Di dekatnya, terdapat pula beberapa suguhan kerajinan tangan seperti batik, ukiran, dan anyaman lokal yang turut diperjualkan.

“Awalnya ada 300 nama, lalu kami seleksi lagi jadi 100 dan terakhir didapat 74,” kata Direktur Sosialisasi Komunikasi dan Jaringan, Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Aris Heru Utomo di De Tjolomadoe, Solo, Jawa Tengah, Minggu (18/8/2019).

Aris menjelaskan seleksi dilakukan secara internal BPIP dengan dibantu tim eksternal untuk memberikan masukan dan penyaringan secara menyeluruh. Meski ada pro-kontra terhadap nama-nama didapat, Aris meyakini, sementara ini 74 nama ini adalah yang laik menerima penghargaan bergengsi BPIP di tahun 2019.

“Data-data telah kami cocokkan, dan mengapa 74 karena disesuaikan dengan usia kemerdekaan Republik Indonesia,” ungkapnya.

Penghargaan diberikan di lokasi ikonik di kota Solo bernama De Tjolomadoe akan menjadi saksinya. Ternyata ini alasannya.

“Pilihan tempat di sini karena gedung ini ikonik, dan peninggalan zaman dulu bisa buat pembelajaran, dulu kita pernah punya pabrik gula yang memiliki pergerakan perjuangan,” kata Aris.

De Tjolomadoe adalah bekas bangunan pabrik gula yang berdiri sejak tahun 1861 di Karanganyar oleh Mangkunegaran IV. Bekas bangunan ini memiliki luas seluas 1,3 ha di atas lahan 6,4 ha.

BACA JUGA:  Pemerintah akan Lebih Agresif Deteksi Kasus Baru Positif Corona

Revitalisasi dari bangunan yang terbengkalai selama 20 tahun ini dilakukan dengan tetap mempertahankan nilai dan kekayaan historis. Terlihat seperti sederet mesin pabrik gula dengan ukurang sangat besar, dijaga dan utuh bentuknya.

Jaraknya tidak jauh dari Bandara Adi Sumarmo Solo, bila melihat peta hanya 4,5 kilometer dan bisa ditempuh dalam waktu 15 menit menggunakan mobil.

Selain pengenalan nilai historis, pengunjung De Tjolomadoe akan disuguhkan oleh tawaran makan dan minuman yang terletak di area kantin. Di dekatnya, terdapat pula beberapa suguhan kerajinan tangan seperti batik, ukiran, dan anyaman lokal yang turut diperjualkan. (itn)