Pemandu Jetski yang Cabuli Turis Tiongkok Divonis 7 Tahun Penjara

Terdakwa Muhammad Toha di persidangan. (foto : SAR)

Beritabalionline.com – Muhammad Toha terdakwa kasus pecabulan terhadap turis Tiongkok di Water Sport Tanjung Benoa pada Sidang di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, Kamis (8/8/2019) dibuat melongo oleh majelis hakim yang dipimpin Hakim Heriyanti.

Bagaimana tidak, Hakim Heriyanti menjatuhkan vonis 2 tahun lebih tinggi dari tuntutan jaksa GA. Surya Yunita yang sebelumnya menuntut terdakwa dengan pidana penjara selama 5 tahun.

Dalam amar putusannya, majelis hakim menyatakan terdakwa bersalah melakukan tindak pidana dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seseorang untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, melakukan perbuatan yang menyerang kehormatan, kesusilaan.

Perbuatan terdakwa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 289 KUHP. “Menghukum terdakwa Muhammad Toha dengan pidana penjara selama 7 tahun, memerintahkan agar terdakwa tetap dalam tahanan,” tegas Hakim Heriyanti dalam pitusanya.

Pertimbangan hakim menaikan hukuman dari tuntutan Jaksa karena perbuatan terdakwa berdampak luas dan merusak citra pariwisata. Tidak hanya itu, akibat perbuatannya korban mengalami psikis dan trauma untuk berpergian ke Bali.

Atas putusan ini, jaksa menyatakan menerima, sedangkan terdakwa yang didampingi penasehat hukum dari Posbakum Peradi Denpasar menyatakan pikir-pikir.

Seperti diketahui, perbuatan bejat yang dilakukan pria asal Banyuwangi ini terjadi ketika korban yang masih remaja 20 tahun dan ibunya LX bersama temannya HY mengunjungi wahana wisata air tepatnya di BMR Drive & water sport, Tanjung Benoa, Badung, pada Selasa (23/4) sekitar pukul 10.00 WITA.

Setibanya di tempat itu, korban bersama HY bermain Sea Water selama kurang lebih 60 menit. Setelah bermain Sea Water, korban tergiur untuk merasakan sensasi permainan Jetski.

Selanjutnya membeli 3 tiket untuk bermain jetski seharga 35 ollar US. Setelah mendapat tiket, ketiganya kemudian menuju pantai didampingi saksi Siti Rohana alias Noe, selaku pengawai BMR.

BACA JUGA:  Korban Dugaan Pemerkosaan Oknum Polisi Alami Trauma, Polda Panggil 2 Orang Saksi

Kala itu, korban mendapat jetski nomor 18 dan terdakwa sebagai pemandu. Lalu terdakwa meminta korban untuk naik ke Jetski dengan posisi korban dibagian depan dan terdakwa di bagian belakang sembari memegang stang jetski. Keduanya pun mengelilingi laut Tanjung Benoa.

Sesampai di tengah laut, terdakwa kemudian meminta korban yang mengemudi jetski dan terdakwa memeluk pinggang korban. Saat itulah timbul niat jahat terdakwa.

Tak bersalang lama, terdakwa mengambil alih kemudi jetski dan membawa korban menjauh dari ibunya sampai di perairan dekat pulau kecil dekat Serangan.

Terdakwa kemudian mematikan mesin jetski lalu menarik dagu korban ke arah kanan dengan kedua tangannya sampai muka korban berhadapan dengan muka terdakwa.

“Selanjutnya terdakwa mencium bibir korban dan korban mengikuti keinginan terdakwa karena korban ketakutan tengelam karena tidak bisa beranang dan berada di tengah perairan laut,” kata Jaksa Yunita dalam dakwaannya.

Selanjutnya, terdakwa memaksa korban untuk melanyani hawa nafsunya. Setelah puas, terdakwa kemudian kembali mengajak korban untuk mengililingi perairan. Tak berselang lama, terdakwa kembali memaksa korban untuk melanyani nafsu bejatnya di atas jetski.

“Setelah tiba di tempat penyewaan Jetski, korban kemudian menceritakan kejadian itu ke ibunya. Lalu ibu korban ditemani guide Zainal Zulfiki melakukan protes kepada pihak BMR Drive & Water Sport. Kemudian dengan dibantu oleh pihak BMR Drive & Water Sport melaporkan kejadian ini ke pihak kepolisian. (sar)