Kasus Bayi Meninggal di TPA yang Menyeret 2 Terdakwa Mulai Diadili

Dua terdakwa yang terseret dalam kasus kematian bayi di TPA Princess House Childcare. (foto : SAR)

Beritabalionline.com – Kasus tewasnya ANG, bayi berusia tiga bulan di Tempat Penitipan Anak (TPA) Princess House Childcare yang menyeret dua orang sebagai terdakwa, Ni Made Sudiani Putri (pemilik TPA) dan Listiani alias Tina (pengasuh di TPA) mulai diadili di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, Senin (29/7/2019).

Jika mengacu pada dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Happy Maulia Ardani, maka kedua terdakwa yang disidang terpisah itu terancam hukuman mininal lima tahun penjara.

Dalam dakwaan yang dibacakan dihadapan majelis hakim PN Denpasar pimpian Heriyanti, jaksa Kejari Denpasar itu menjerat kedua terdakwa dengan Pasal 76d Jo Pasal 77b UU Perilindangan Anak dan Pasal 359 KUHP.

Kedua terdakwa didakwa melakukan tindak pidana menempatkan, membiarkan, melibatkan, menyuruh melibatkan anak dalam situasi perlakuan salah dan penelantaran yang karena kealpaanya menyebabkan orang lain mati.

Dalam dakwaan dipaparkan, terdakwa Ni Made Sudiani Putri alias Bu Made sebagai pengelola TPA Princess House Childcare yang telah beroperasi sejak tahun 2011 bertanggungjawab mengawasi dan melakukan pembinaan terhadap karyawan yang berjumlah 10 yang terdiri dari 9 perempuan sebagai pengasuh dan 1 orang laki-laki.

Dijelaskan pula, setiap harinya, anak-anak yang dititipkan di tempat tersebut kurang lebih 50 puluh anak yang terdiri dari 0 bulan sampai 2 tahun sebanyak 20 anak, 2 tahun sampai 3 tahun sebanyak 10 anak, dan 3 tahun sampai 7 tahun sebanyak 20 anak.

Sementara rasio pengasuh yakni 5 bayi diasuh 1 pengasuh, 8 anak usia sedang diasuh 1 pengasuh dan 10 anak usia besar diasuh 1 pengasuh. Untuk biayanya, Rp 100 ribu per hari untuk 1 anak dan Rp900 ribu per bulan untuk 1 anak.

BACA JUGA:  Mantan Dosen Dituntut 5 Tahun Penjara atas Kepemilikan Sabu

Terdakwa mencari karyawan dengan cara mengiklankan melalui aplikasi OXL, tanpa adanya persyaratan mengenai pendidikan, pengalaman bekerja dalam hal pengasuhan anak dan batasan usia.

Kasus ini bermula Masih pada Kamis (9/5/2019) sekitar pukul 07.00 WITA, saksi Andika Anggara mendatangi tempat tersebut untuk menitipkan kedua anaknya berinisial K dan ANG (korban) yang diterima oleh saksi Evi Juni Lastrianti Siregar. Untuk korban ENA yang berusia 3 bulan diserahkan ke Listiani.

Pada pukul 13.00 Wita, terdakwa Bu Made mendatangi tempat tersebut, namun hanya mengecek jalannya operasional kepada karyawan kepercayaanya saja tanpa mengecek satu per satu kondisi dan bayi yang dititipkan. Karena menganggap tidak ada masalah, pada pukul 16.00 WITA terdakwa meninggalkan tempat tersebut.

Berselang beberapa jam kemudian, pada pukul 15.00 WITA, Listiana berusaha menenangkan korban ANG yang menangis dengan membedong dan memberi susu melalui botol dot.

Kemudian Listiana menengkurapkan korban ANG di tangannya sambil ditepuk-tepuk pinggulnya agar sendawa, Pada pukul 16.17 Wita, Listiana menengkurapkan korban di kasur dengan posisi muka ke samping. Listiana kemudian meninggalkan korban dengan kondisi pintu tertutup untuk mengurus bayi yang lain.

Nah, pada pukul 17.50 Wita, korban yang hendak dijemput oleh neneknya, ditengok olwh Listiani. Namun pada saat Listiani membuka lilitan kain bedongnya, korban Ena sudah dalam keadaan lemas. Dalam keadaan panik, Liastiani menggosok minyak ke kaki korban tapi tetap lemas dan tidak terbangun.

Kemudian atas perintah terdakwa Bu Made, korban ANG dilarikan ke RS Bros. Meski sempat mendapat perawatan medis, nyawa korban ANG pun tak bisa tertolong. Dari hasil visum et prepartum, pada korban ENA ditemukan luka-luka memar akibat kekerasan benda tumpul, tanda-tanda mati lemas, perbendungan pada organ dalam, sembab otak dan paru-paru, dan cairan putih dalam saluran napas dan paru.

BACA JUGA:  Koruptor Dana APBDes Desa Baha, Badung Diganjar 4,5 Tahun Penjara

Selain itu, sebab kematian adalah terhalangnya jalan napas dan penyakit infeksi paru akut yang mengakibatkan korban sulit bernapas sehingga menimbulkan mati lemas.

Lebih lanjut, masih dalam dakwaan untuk terdakwa Sudiana, bahwa TPA yang dikelola oleh terdakwa melanggar berbagai ketentuan mulai dari diisi oleh karyawan tidak profesional sebagaimana disyaratkan dalam peraturan menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No.137/2014 tentang standar Nasional pendidikan anak usia dini, hingga belum mendapat ijin dari Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga, Kota Denpasar. (sar)