BNN Sayangkan Vonis Ringan Pelaku Narkoba

BNN dalam kegiatan layanan Rehabilitasi Berbasis Masyarakat. (foto : Agung Widodo/Beritabalionline.com)

Beritabalionline.com – Vonis ringan terhadap pelaku baik bandar maupun pengedar narkoba ditengarai menjadi salah satu faktor maraknya kasus peredaran gelap narkotika di Bali. Kerja keras aparat kepolisian serta BNN dalam pemberantasan narkoba akhirnya sia-sia.

“Kan ada unsur-unsur pembuktian yang dilakukan oleh hakim, saya tidak akan mencampuri masalah itu (vonis ringan),” ucap Kepala BNNP Bali Brigjen Pol. I Putu Gede Suastawa saat ditemui usai mendampingi Sekretaris Utama BNN RI Irjen Pol. Adhi Prawoto dalam kegiatan layanan Rehabilitasi Berbasis Masyarakat (RBM) dan agen pemulihan, Kamis (25/7/2019) di Denpasar.

Suastawa menerangkan, dalam kasus narkotika ada beberapa hukuman yang diberikan sesuai dengan pasal. Untuk kelas 1, minimal hukuman 4 tahun, kelas 2 minimal 2 tahun, dan untuk kelas 3 minimal hukuman yang dijatuhkan 1 tahun.

“Kalau di bawah kelas-kelas itu, perlu dipertimbangkan lagi, supaya diperberat hukumannya. Undang-undang narkotika nomor 35 tahun 2009, kan sudah mengatur seperti itu. Vonis yang dijatuhkan minimal, bukan maksimal,” tegasnya.

Disinggung belakangan terjadi kecenderungan peningkatan dari yang semula pemakai menjadi pengedar atau bahkan menjadi bandar, Brigjen Suastawa mengungkapkan hal itu terjadi karena uang.

“Dia dulunya uangnya habis dipakai beli, dan kemudian mengerti mencari uang dengan menjadi pengedar gampang, berubahlah dia. Ngerti pangsa pasar, ngerti rekanan, ngerti sindikasi luar, makanya dia menjadi kurir atau bandar,” paparnya.

Sementara itu saat menyaksikan kegiatan layanan Rehabilitasi Berbasis Masyarakat (RBM) dan agen pemulihan, Sekretaris Utama (SESTAMA) BNN RI, Irjen Pol. Adhi Prawoto mengatakan, program RBM sudah lama dicanangkan dan Bali menjadi pilot project.

“Tujuan RBM yaitu mengidentifikasi masalah, memberikan edukasi, melakukan penjangkauan untuk mempermudah akses layanan, memberikan dukungan kesehatan dan sosial serta spiritual, melakukan rujukan kelayanan, melibatkan keluarga agar turut serta menjamin bahwa layanan rehabilitasi bisa terus berjalan,” jelasnya.

BACA JUGA:  Bawa Samurai dan Buat Warga Ketakutan, Seorang Pria Diamankan Polisi

Dikatakan, adanya program agen pemulihan mempunyai tugas yang terbagi dalam pemantauan, pendampingan serta bimbingan lanjut. Kegiatan tersebut akan dijalankan oleh masing-masing agen pemulihan yang dilatih dan diberi pelatihan.

“Kami berharap semua elemen masyarakat mampu menjadi agen pemulihan untuk menghindarkan diri, keluarga serta lingkungan sekitarnya agar tidak terpengaruh untuk menggunakan narkotika. Klien-klien yang telah menyelesaikan terapi agar tetap dimonitor untuk menjaga pemulihan,” ucap Prawoto. (agw)