Belasan Buruh Bangunan Asal Sumba Diamankan Polres Gianyar

Belasan buruh bangunan asal Sumba tangan dan kakinya diborgol pascabentrok fisik. (foto : ist)

Beritabalionline.com – Sebanyak 13 buruh bangunan yang masing-masing dalam keadaan tangan dan kaki dirantai, digiring dari ruang tahanan menuju lobi Mapolres Gianyar pada Jumat (26/7/2019) siang.

Mereka merupakan bagian dari dua kelompok buruh asal Sumba, Nusa Tenggara Timur yang terlibat dalam bentrok fisik di daerah Tegallalang, Kabupaten Gianyar, Bali.

Dari hasil penyelidikan polisi, terungkap 13 orang yang kemudian ditetapkan sebagai tersangka pelaku bentrokan, dari sebelumnya sekitar 25 buruh yang sempat diamankan petugas. Siang itu mereka digiring ke lobi serangkaian acara jumpa pers tentang kasus tersebut yang digelar pihak Polres Gianyar.

Di hadapan awak media massa, Kapolres Gianyar AKBP Priyanto Priyo Hutomo SIK MH mengatakan bahwa bentrok fisik dua kelompok buruh bangunan itu bermula dari adanya miskomunikasi antara Yacob Pungo, buruh asal Sumba yang bekerja di proyek Banjar Bangkiang Sidem, Tegallalang, dengan Susanto Rangga, yang juga asal Sumba,
bekerja sebagai buruh proyek di Desa Sayan, Ubud.

“Masalahnya sepele, hanya karena saling pandang, lalu saling tantang,” kata Kapolres didampingi Kasat Reskrim AKP Deni Septiawan SIK, Kapolsek Tegallalang AKP Gede Sukadana SH dan Kasubag Humas Polres Gianyar Iptu I Ketut Suarnata SH.

Ia mengungkapkan, berawal dari saling pandang, Yacob bersama enam orang temannya menyusul mencari Susanto ke proyek tempatnya bekerja di Desa Sayan pada hari Minggu, 21 Juli lalu, namun yang dicari tidak berada di tempat.

Tak mau pulang dengan tangan kosong, Yacob lantas menelepon Susanto, terjadi saling tantang, yang akhirnya mereka sepakat bertemu di kawasan Bangkiang Sidem. Namun pertemuan tersebut kembali gagal, karena di tengah perjalanan kelompok Yacob Pungu dicegat pecalang, mereka pun memilih kembali ke proyek.

BACA JUGA:  Mantan Sekjen Laskar Bali Dijebloskan ke LP Kerobokan

Setelah beberapa hari kemudian, tepatnya pada Selasa, 23 Juli 2019 sekitar pukul 14.00 Wita, Yacob bersama lima orang temannya kembali mendatangi proyek di Desa Sayan untuk mencari Susanto. Begitu menemukan Susanto, kelompok Yacob langsung mengeroyoknya. Susanto yang tak berdaya, memilih lari sembari minta pertolongan.

Kapolres Priyanto menyebutkan, Susanto tidak terima mendapat perlakukan seperti itu, sehingga bersama 11 orang temannya berniat melakukan balas dendam dengan menyerang ke proyek tempat Yacob bekerja di Banjar Bangkiang Sidem, Desa Keliki, Tegalalang pada 23 Juli lalu, sekitar pukul 16.30 Wita. Saat menyerang, empat orang dari 11 orang tersebut membawa senjata tajam.

Tiba di proyek Bangkiang Sidem,lanjut Kapolres, kelompok Yacob sudah siap-siap untuk menangkal serangan tersebut. Kelompok Yacob melempari kelompok Susanto menggunakan batu. Saat itu, sejumlah anggota kelompok Susanto lari tunggang-langgang. Sementara Susanto yang tidak berhasil kabur, kembali dikeroyok.

Masyarakat setempat yang melihat kejadian, langsung mengamankan bentrokan tersebut. Celakangan, ketika masyarakat mengamankan kelompok satunya, kelompok Yacob justru merusak kendaraan milik kelompok Susanto. Setelah itu, aparat kepolisian pun datang ke tempat kejadian, lalu mengamankan kedua kelompok tersebut.

Selain mengamankan para pelaku bentrokan, polisi juga menyita barang bukti, antara lain enam unit sepeda motor berbagai jenis, dua bilah kayu, dua bongkah batu kapur dan empat bilah senjata tajam.

Kapolres mengatakan, pasal yang dikenakan untuk para pelaku bentrok tersebut, tidak sama. Terhadap empat orang yang terbukti membawa senjata tajam yakni Martinus Ndara Ole, Susanto Rangga Dari, Soleman Ndara Kede dan Yohanis Mahemba, dikenakan UU Darurat RI Nomor 12 tahun 1951 tentang kepemilikan senjata tajam tanpa izin, dengan ancaman hukuman 10 tahun penjara.

BACA JUGA:  Dipukul Hingga Terbentur Dinding Kolam, Bule Inggris Alami Luka di Kepala

Sementara sembilan orang tersangka lainnya, dikenakan pasal 170 KUHP terkait tindak kekerasan dengan ancaman hukuman di atas lima tahun penjara, ujar AKBP Priyanto menjelaskan.

Untuk proses hukum lebih lanjut, ke-13 tersangka kini ditahan pihak Polres Gianyar sedangkan sejumklah buruh yang lain yang tidak terbukti terlibat, dikembalikan ke tempat mereka bekerja di dua proyek bangunan berbeda. (agw)