Gagal Panen, Harga Cabai Melambung

ilustrasi

Beritabalionline.com – Akibat gagal panen, berdampak meroketnya harga cabai merah di pasaran. Mengantisipasi hal tersebut, Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Bali, berupaya mengendalikan harga dengan menggelar operasi pasar dan pasar murah.
Ir. I Nyoman Suarta, M.Si., Kepala Bidang Distribusi dan Cadangan Pangan, Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Bali, mengatakan menjelang Hari Raya Galungan ini harga cabai merah besar dan cabe rawit mengalami lonjakan akibat keterbatasan pasokan. Dikhawatirkan menjelang Hari Raya Galungan harga akan terus mengalami kenaikan.
“Yang dapat kami lakukan hanya melakukan operasi pasar dan melaksanakan pasar murah, dengan mengundang pemasok cabai dari luar Bali. Karena kami tidak memiliki anggaran untuk melakukan langkah lebih jauh,” jelas Suarta di Kantor Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Bali.
Dikatakan, harga cabai memang kerap menjadi faktor penyebab terjadinya inflasi. “Kami berharap pada 2020 dapat segera mewujudkan Lembaga Usaha Pangan Masyarakat ( LUPM) cabai. Seperti halnya dengan LUPM beras, dimana kami membeli gabah dengan harga tinggi dari petani dan menjual beras dengan harga murah kepada masyarakat,” terangnya.
Kedepan, dengan LUPM cabai diharapkan dapat mengendalikan harga cabai di pasar, tanpa merugikan petani. “Pada 2020 ini kami mendapatkan jatah 3 LUPM cabai dan 3 LUPM telor sehingga harga cabai dapat lebih terkendali. Karena bila panen di Bali gagal, LUPM dapat mendatangkan cabai dari luar Bali dengan ongkos pengiriman dan buruh ditanggung pemerintah pusat sehingga harga ketika sampai di Bali masih tetap murah,” tandasnya.
Untuk saat ini yang bisa dilakukan hanya mengundang produsen cabai dari luar Bali, untuk menggelar pasar murah. Seperti yang akan dilakukan Minggu (14/7) kemarin di lapangan Renon Denpasar.
Sementara pengakuan salah seorang pedagang bumbu di Pasar Kumbasari Ni Luh Padma (45) mengatakan, belakang ini harga cabai terus melambung, tidak tahu kenapa harga cabai melonjak.
“Diawal kenaikannya harga cabai rawit seharg 45 ribu per kilo, terus naik menjadi 50, belum seminggu 60, dan sekarang sudah 75 per kilo gram,” jelasnya sraya mengeluh.
Dengan naik tajam harga cabai dirinya tidak mampu membeli banyak barang, karena terbentur modal terbatas agar bisa menyediakan beragam jenis barang.
Penjualan cabai sekarang menurun, permintaan berkurang karena harga yang melonjak. Permintaan cabai sehari bisa menghabiskan 100 kilo gram, sekarang hanya 40 kilogram saja.
“Pembeli mengurangi ordernya, yang dulu memberi 5 kilo, sekarang bisa 2 kilo bahkan 1kilo, ungkapnya.
Ini baru H-10 hari Raya Galungan, kemungkinan bisa naik terus jelang Galungan. “Mudah-mudahan tidak lagi naik harganya, agar modal bisa diputar untuk membeli barang lainnya, imbuhnya.
Harga bumbu lainnya seperti bawang merah, bawang putih, tomat, dan bumbu lainnya tidak begitu tajam naiknya. Hanya cabai yang melambung. Baik cabai besar, cabai hijau, cabai kedi, dan lombok semua meningkat tajam harganya.(arz)

BACA JUGA:  Bea Cukai Support Arak Tradisional Tembus Pasar Internasional