Disdik Bali: Calon Siswa Pengguna Surat Domisili Palsu akan Didiskualifikasi

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Bali Ketut Ngurah Boy Jayawibawa. (foto : ist)

Beritabalionline.com – Dinas Pendidikan Provinsi Bali akan mendiskualifikasi calon siswa baru jika terbukti menggunakan surat keterangan domisili yang tidak benar atau palsu pada proses Penerimaan Peserta Didik Baru jenjang SMA/SMK tahun pelajaran 2019/2020.

“Kami sudah membentuk tim gabungan dengan sekolah-sekolah, yang akan datang memverifikasi langsung ke rumah-rumah calon siswa yang melampirkan surat pernyataan domisili. Ini supaya aturannya fair,” tandas Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Bali Ketut Ngurah Boy Jayawibawa, di Denpasar, Rabu (3/7/2019).

Dia menegaskan, pihaknya akan menelusuri dan memantau benar tidaknya calon siswa tinggal sesuai dengan alamat domisili yang disampaikan. Bahkan jika ada yang masyarakat yang mengetahui ada calon siswa yang menggunakan surat domisili tidak benar, supaya jangan segan untuk melaporkan ke Disdik.

“Jika memang pernyataan yang diserahkan tidak benar atau surat keterangan domisilinya palsu, tentu akan didiskualifikasi karena artinya dari awal sudah berbuat tidak jujur,” ucapnya usai menerima perwakilan orang tua siswa yang menyampaikan aspirasi ke Disdik Bali.

Boy juga menegaskan komitmennya dalam penentuan kuota PPDB SMA/SMK tahun ini tetap mengacu pada Permendikbud Nomor 51 Tahun 2018, yakni untuk jalur zonasi paling sedikit 90 persen dari daya tampung sekolah, jalur prestasi paling banyak 5 persen, dan jalur perpindahan orang tua 5 persen.

“Kami tetap konsisten memakai tiga jalur tersebut sampai dengan pengumuman penerimaan PPDB tanggal 5 Juli ini, setelah itu kami lihat pemetaannya bagaimana,” kata dia.

Pihaknya tetap mengacu pada ketentuan sesuai Permendikbud, meskipun sejumlah orang tua menyampaikan aspirasi agar kuota bisa didiskresi untuk menampung anak-anak mereka yang terganjal diterima di SMA negeri karena persoalan kalah jarak dalam penerimaan Jalur Zonasi, meskipun memiliki nilai UN yang tinggi.

BACA JUGA:  Putri Koster Apresiasi Pasar Minggu

“Jangan sampai karena hal tersebut, jadi mengganggu PPDB siswa-siswi lainnya karena diikuti sekitar 65 ribu tamatan SMP se-Bali,” demikian Boy. (sut)