Terjerat Kasus Aborsi Ilegal, Sepasang Kekasih Terancam Hukuman 10 Tahun Penjara

Mikael Bulu alias Melkianus (23) dan Olivia Wolla Wawo (26) terjerat kasus aborsi. (foto : Sar)

Beritabalionline.com – Sepasang kekasih, Mikael Bulu alias Melkianus (23) dan Olivia Wolla Wawo (26) yang terjerat kasus aborsi (pengguguran) kandungan secara illegal, Senin (1/7/2019) diseret ke Pengadilan untuk diadili.

Keduanya dianggap paling bertanggungjawab karena memerintahkan sekaligus memfasilitasi AN yang masih dibawah umur untuk menggugurkan kandungannya.

Sadisnya lagi, ayah dari janin yang digugurkan itu adalah terdakwa I, Mikhale Bulu alias Melkianus. Sedangkan terdakwa II, Olivia Wolla Wawo adalah kakak kandung dari AN. AN sendiri dalam perkara ini juga dijadikan terdakwa.

Kasus ini bergulir ke Pengadilan berawal dari AN yang mengetahui dirinya hamil akibat hubungan terlarang dengan terdakwa I. Mengetahui AN hamil, terdakwa I lalu memberi tahu terdakwa II.

“Terdakwa II yang tidak lain adalah pacar terdakwa I marah setelah mengetahui adiknya dihamili oleh terdakwa I, ” terang Jaksa Penuntut Umum (JPU) IGN Wirayoga sebagaimana dalam dakwaan yang dibacakan dimuka sidang pimpinan Hakim I Wayan Kawisada.

Setelah memastikan AN hamil, terdakwa II meminta agar AN menggugurkan kandungannya. Berbagai cara dilakukan oleh terdakwa I, II dan juga AN untuk menggugurkan kandungan.

Yang pertama terdakwa II memberikan ramuan berupa campuran jahe, merica dan buah nanas yang sudah diblender. Kemudian terdakwa II memberikan buah nanas kepada AN.

Belum berhasil juga, terdakwa I dan terdakwa II membawa AN ke tukang urut dengan maksud untuk menggugurkan janin dalam kandungan AN.

Dalam dakwaan diterangkan, kedua terdakwa terus memberi AN nanas dan setidaknya dua kali membawa AN ke tukang urut kandungan. Namun usaha itu tidak juga berhasil.

Yang terakhir sekitar tanggal 7 Maret 2018 hingga 12 Maret 2018 bertempat di kamar kost di Ds. Pererenan, AN diberitkan obat penggugur kandungan yang dibeli terdakwa II melalui online yang diminum AN selama enam hari berturut-turut.

BACA JUGA:  Dalam Setengah Bulan, Polresta Denpasar Amankan 16 Kurir dan Pengedar Narkoba

Pada tanggal 13 Maret 2018 hingga 15 April 2018 AN mengalami perdarahan hingga tidak bisa tidur karena mengalami sakit perut hebat.

Pada hari Sabtu tanggal 7 April 2018 sekira pukul 06.39 wita, AN mengalami perdarahan hebat dan merasakan ada sesuatu yang keluar dari kemaluanya dan jatuh ke kloset.

Saat AN melihat ke arah closet ada janin berwarna merah sebesar dua kepal dalam keadaan tangan hancur dan meninggal dunia.

Kasus ini terungkap setelah AN yang merasa ketakutan sering mendengar anak kecil menangis menceritakan kejadian ini kepada saksi Nonce, salah satu kerabatnya yang bekerja di Batam.

Nonce lalu meminta kepada saksi Yeni Damaris untuk melihat keadaan AN. Selah melihat kondisi AN, Yeni Damaris bersama pecalang Desa setempat melaporkan kasus ini ke Polres Badung.

Akibat berbuatan ini ,kedua terdakwa dijetat dengan Pasal 77A ayat (1) Jo. Pasal 45A UU Nomor : 35 tahun 2014 tentang Perubahan atas UU Nomor : 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. (sar)