Bright Gas Banyak Diminati Usaha Mikro

Branch Marketing Manager PT Pertamina Bali dan NTB, Fedy Alberto (tengah) bersama para pelaku UMKM yang menggunakan Bright Gas dalam program Beduk di Denpasar.(foto; ist)

Beritabalionline.com – Digantikannya elpiji 3 Kg ke Bright Gas banyak dinikmati oleh usaha mikro. Hal ini tidak lepas dari hematnya Bright Gas dibanding gas elpiji 3 Kg. Hal ini dibuktikan oleh Saiful, salah seorang pedagang kaki lima yang beralih dari gas 3 Kg subsidi ke Bright Gas.

Saiful yang kesehariannya berjualan kebab dan burger sejak 2008 ini, di wilayah Denpasar selatan mengakui bahwa Bright Gas ternyata lebih hemat dibanding gas elpiji 3 Kg.

”Ini usaha keluarga, yang saya teruskan. Awalnya saya pakai gas elpiji 3 Kg, pemakaiannya boros sekali dan cuma 3 hari bertahan. Nah, setelah saya coba pakai Bright Gas ternyata lebih hemat, bisa dipakai kurang kebih sampai 10 hari,” ungkap Saiful dalam sebuah acara Berbuka dengan Usaha Mikro dan Komunitas (Beduk) yang digelar oleh PT Pertamina (Persero) Marketing Branch Bali dan NTB di Denpasar, Jumat (24/5/2019).

Dalam gelaran BEDUK tersebut Branch Marketing Manager PT Pertamina Bali dan NTB, Fedy Alberto, mengatakan sudah banyak UMKM yang beralih dari gas elpiji 3 Kg ke Bright Gas.

”Sudah cukup banyak dan terus berkembang, kami harapkan penggunaan Bright Gas di kalangan UMKM ini dapat membantu pedagang atau pelaku usaha UMKM mendapatkan keuntungan lebih banyak dan lebih hemat,” ujarnya seraya menambahkan, permintaan Bright Gas, khususnya di Denpasar terus meningkat. Sejak 2 tahun lalu permintaan Bright Gas terus meningkat dan hingga kini sekitar 2 ton per hari.

Gas elpiji 5,5 Kg ini, diharapkan ke depannya dapat menekan elpiji subsidi 3 Kg. Secara umum pertumbuhan elpiji rata-rata naik sekitar 4 persen. Harapannya pertumbuhan Bright Gas bisa antara 8-15 persen dalam setahun di 2019. Sehingga beban subsidi ke depannya dapat terus berkurang.

BACA JUGA:  BPK Sebut 95 Persen Laporan Keuangan Pemerintah WTP

Sementara untuk menyambut Lebaran 2019, pihaknya juga telah siaga. “Kami dari Pertamina sudah membentuk tim satuan tugas yang mulai berlaku H-15 sampai H+15. Kami terus meningkatkan ketahanan stok baik BBM maupun elpiji,” jelas Fedy Alberto.

Ditambahkan untuk BBM, ketahanan stok ditingkatkan dari biasanya 16-18 hari menjadi 18-21 hari. Sedangkan untuk elpiji ditingkatkan ketahanan stoknya, dari rata-rata antara 3-5 hari menjadi 4-7 hari dengan stok ada di Manggis dan Pesanggaran.

”Kalau BBM peningkatan di Bali tidak sebesar di Jawa, karena di sini kan bukan tujuan mudik. Kalau di Jawa, peningkatan kebutuhan bisa antara 7-10 persen pada saat menjelang H-7 sampai H-1. Sementara di Bali kenaikan 2-4 persen saja, karena bukan merupakan tujuan mudik hanya saja tujuan wisata. “Jadi saat H-3 biasanya sudah mulai naik kebutuhan di daerah wisata seperti Bedugul, Kintamani, Kuta,” tambah Fedy Alberto.

Menurut Fedy titik keramaian juga ada di Pelabuhan Gilimanuk dan Padang Bai. Sehingga antisipasi untuk stok BBM di SPBU sekitar wilayah kedua ini dan rute menuju ke sana. Pihaknya pun menyiapkan yang mobile juga, untuk selalu dipenuhi kebutuhan sehingga tidak ada kelangkaan. Jam operasional, kata Fedy, khususnya di jalur utama kemacetan rata-rata beroperasi 24 jam sehingga akan membantu masyarakat. (yaw)