Pawai Budaya HUT Kota Gianyar ke-248, Esensi Sejati Seni Berbahan Ramah Lingkungan

Salah satu atraksi peserta Pawai Budaya HUT Kota Gianyar ke -248 tahun 2019.(foto: yesi).

Beritabalionline.com – Pawai Budaya HUT Kota Gianyar ke -248 tahun 2019 terlihat berbeda dari pergelaran tahun-tahun sebelumnya. Pasalnya, seluruh duta kecamatan diwajibkan untuk tidak menggunakan produk pementasan berbahan plastik, sterofoam, dan material tak ramah lingkungan lainnya.

“Saatnya kembali ke alam dan lebih mendalami kearifan lokal. Dan bagi para seniman muda diharapkan dapat lebih kreatif menggali potensi seni budaya dengan material alami ke depannya,”ucap PLT Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Gianyar I Made Suradnya dalam laporannya pada pawai budaya HUT Kota Gianyar ke-248 tahun 2019 di Open Stage Balai Budaya Gianyar, Rabu (1/5/2019).

Suradnya mengatakan, peserta pawai budaya tahun ini mengambil tema Satya Premana Winangun Loka Budaya (Kekuatan Jiwa membangkitkan budaya lokal dalam menghadapi tantangan arus budaya global) dan diikuti ratusan seniman dari tujuh kecamatan di Kabupaten Gianyar, ditambah peserta dari SMKN 3 Sukawati dan Forum Koordinasi Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Gianyar.

“Dibuka oleh penampilan tari Adi Merdangga oleh SMKN 3 Sukawati, kemudian tari persatuan Tabelo dari FKUB Kabupaten Gianyar, dilanjutkan berurutan mulai dari duta Kecamatan Gianyar, Tegalalang, Payangan, Blahbatuh, Ubud, Sukawati, dan Tampaksiring,”jelas Suradnya.

Bupati Gianyar Made Mahayastra mengapresiasi pergelaran pawai tahun ini yang serentak menggunakan bahan ramah lingkungan. Hal tersebut sesuai dengan surat edaran yang dikeluarkannya berdasarkan Pergub Bali tentang pembatasan penggunaan plastik, sterofom.

“Semoga kesenian yang diwariskan oleh leluhur dapat tetap terjaga. Dan generasi masa kini selalu berusaha menemukan unsur-unsur seni baru yang bisa dipadukan dengan perkembangan zaman,”harap Bupati.

Desa Temesi sebagai duta Kecamatan Gianyar membawakan parade tema Peneduh Jagat. Kemudian Wakil kecamatan Tegalalang menonjolkan tradisi Ngerebeg. Selanjutnya, Duta Kecamatan Payangan, yang diwakili Desa Puhu menunjukkan garapan tari “Pancering Buka”.

BACA JUGA:  Akibat Arus Deras, KMP Prathita IV Kandas di Perairan Gilimanuk

Berikutnya, Desa Medahan sebagai duta kecamatan Blahbatuh menampilkan fragmentari perjalanan I Gusti Agung Maruti. Kemudian, Desa Peliatan mewakili Kecamatan Ubud membawakan “Langening Loka Budaya Peliatan.” Selanjutnya, Kecamatan Sukawati mengusung tema “Singa Sanga Dhuara Werdhi Ulangun”. Lalu, by Kecamatan Tampaksiring yang diwakili Desa Pejeng dan Pejeng Kawan mempertunjukkan tema “Bayu Premana”. (yes)