Terkait Pembangunan ‘Pelinggih’ di Pura Besakih, Gubernur Koster: Jangan Pakai Pendekatan Feodal

Gubernur Koster (dua dari kanan) saat diundang menyampaikan kuliah umum di Kampus ISI Denpasar. (foto : ist)

Beritabalionline.com – Gubernur Bali Wayan Koster menginginkan ada standar yang sama terkait kualitas bangunan maupun material pembuatan pelinggih atau bangunan suci di Pura Agung Besakih, Kabupaten Karangasem.

“Pura Besakih harus mencerminkan satu kesatuan komponen masyarakat Bali. Tidak boleh memakai pendekatan feodal di sana. Harus sama untuk semua masyarakat Bali,” kata Koster saat menyampaikan kuliah umum di hadapan mahasiswa dan civitas akademika Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Jumat (5/4/2019).

Menurut orang nomor satu di Bali ini, sekarang ini standar pelinggih di Pura Besakih berbeda-beda karena pelinggih yang ini yang ‘ngemong’ (bertanggung jawab-red)) Pemerintah Kabupaten Badung, yang lainnya lagi Kabupaten Bangli, Buleleng dan sebagainya. Kebetulan keuangannya beda-beda, sehingga menyebabkan ada yang kualitasnya bagus, ada biasa-biasa saja, ada yang berwarna hitam, putih dan sebagainya.

Oleh karena itu, lanjutnya, ke depannya dia mengharapkan adanya konsep yang sama terkait material pembuatan pelinggih-pelinggih di Pura Besakih.

“Pendanaannya boleh dari masing-masing kabupaten. Tetapi konsep harus diberikan dalam satu kesatuan,” ujar Koster saat menyampaikan kuliah umum bertajuk Nangun Sat Kerthi Loka Bali Untuk Pemajuan Seni dan Budaya itu.

Koster menambahkan, jika ada bangunan suci di Pura Besakih yang rusak, diminta segera diperbaiki dan kalau pemerintah kabupaten/kota tidak sanggup untuk pendanaannya, dapat meminta bantuan ke pemerintah provinsi.

Di sisi lain, Koster mengharapkan “upakara” atau sesajen yang dipersembahkan di pura terbesar di Bali itu dijalankan sesuai dengan pakem-pakemnya yang terdapat dalam lontar.

“Harus betul-betul ditata sesuai dengan warisan leluhur,” kata Koster yang juga Ketua DPD PDIP Bali.

BACA JUGA:  Banjar Padangsumbu Tengah Bantu Sembako untuk 123 Kepala Keluarga

Koster menegaskan pihaknya ingin menjaga kesakralan Pura Besakih, bahkan dirancang penataaan agar wisatawan ke depannya tidak bebas masuk ke areal pura. (agw)