Jamur Cegah Penurunan Kesehatan Mental

ilustrasi jamur

Beritabalionline.com Sebuah penelitian terbaru yang dilakukan di Singapura, menunjukan mengkonsumsi jamur dapat membantu menjaga penurunan penyakit mental. Hasil studi tersebut berdasarkan penelitian yang dilakukan 600 warga Singapura berusia 60 tahun ke atas.

Dalam studi yang dilakukan antara 2011 dan 2018 itu para peneliti dari National University of Singapore (NUS) menemukan partisipan yang makan lebih dari dua porsi jamur seminggu atau setara dengan 300 gr atau sekitar setengah piring, menunjukan 57% lebih kecil kemungkinannya memiliki gangguan kognitif ringan dibandingkan dengan mereka yang makan lebih sedikit.

Sebagaimana disitat dari The Straits Times, Senin (1/4/2019), Irwin Cheah seorang peneliti senior di Departemen Biokimia NUS mengatakan efek jamur tersebut bisa terjadi karena jamur mengandung senyawa tingkat tinggi yang dikenal sebagai ergothioneine. Senyawa itu bertindak sebagai antioksidan dan agen anti-inflamasi yang dapat melindungi sel-sel otak dari kerusakan.

Dalam studi terpisah pada 2016 yang juga melibatkan Irwin Cheah, peneliti menemukan kekurangan zat itu bisa menjadi faktor risiko penyakit neurodegeneratif, seperti Alzheimer.
“Manusia tidak dapat mensintesis senyawa ini, tetapi dapat diperoleh dari sumber makanan,” jelas Irwin.

Dirinya menambahkan para peneliti mengukur berbagai makanan dan menemukan banyak sumber makanan lain yang mengandung senyawa serupa seperti kacang-kacangan dan hati, kadar kandungannya rendah. Sedangkan jamur mampu mensintesis ergothioneine memiliki tingkat kadar kandungan yang sangat tinggi.

Penelitian tersebut dilakukan dengan meminta para partisipan untuk melaporkan diet reguler mereka, termasuk asupan enam jenis jamur yang biasa dimakan di Singapura (jamur emas, jamur tiram, jamur shitake, jamur kancing putih, jamur kering, dan jamur kalengan). Tidak hanya itu, para peneliti juga mengontrol asupan makanan lain yang diketahui berkorelasi dengan fungsi kognitif, seperti sayuran, buah, dan kacang-kacangan.

BACA JUGA:  Gandeng Komunitas, Pemkot Kembali Gelar Denpasar Book Fair 2019

Setelah itu para peserta kemudian mengambil tes yang dirancang untuk mengukur kemampuan kognitif seperti memori dan seberapa cepat mereka dapat memproses informasi. Skor yang diperoleh dikontrol berdasarkan usia dan tingkat pendidikan. Bagi mereka yang mendapat skor kurang dari 1,5 standar deviasi di bawah skor rata-rata peserta dengan usia dan tingkat pendidikan yang sama, maka diklasifikasikan memiliki gangguan kognitif ringan. Hasilnya sekitar 90 dari 663 peserta termasuk dalam kategori ini.

Gangguan kognitif ringan sendiri adalah tahap menengah antara penurunan kognitif normal, terkait dengan penuaan, dan demensia, yang tidak ada obatnya.

“Dengan meningkatnya jumlah lansia, kita dapat berharap melihat potensi tsunami demensia di masa depan. Berita baiknya adalah bahwa penurunan kognitif dapat dikelola.” ungkap peneliti utama dalam penelitian tersebut, Asisten Profesor Feng Lei.

Lebih lanjut Feng, yang berasal dari Departemen Kedokteran Psikologi NUS, mengatakan orang dengan gangguan kognitif ringan masih dapat melakukan fungsi paling normal dan tingkat penurunan dapat diperlambat melalui diet dan intervensi gaya hidup lainnya. Tes tersebut menunjukkan kelompok ini memiliki tingkat ergothioneine yang lebih rendah dalam aliran darah mereka, yang juga berkorelasi dengan asupan jamur yang lebih rendah.

“Kami berencana untuk melakukan uji klinis pada manfaat potensial dari ergothioneine murni atau dalam kombinasi dengan nutrisi lain yang berasal dari tanaman dalam menunda penurunan kognitif. Jika berhasil, penelitian dapat mengarah pada pengembangan suplemen di masa depan,” pungkas Feng.(net)