Indahnya Rajutan Kebhinekaan di Pulau Dewata

Sebuah masjid berarsitektur Bali.

Beritabalionline.com – Puja Mandala yang berlokasi di dekat kawasan BTDC Nusa Dua, Kabupaten Badung, menarik perhatian banyak wisatawan baik mancanegara maupun domstik. Pasalnya, di tempat ini terdapat lima tempat ibadah sekaligus, yaitu: Pura Jagat Natha Nusa Dua, Gereja Katolik Paroki Maria Bunda Segala Bangsa, Wihara Budha, Gereja Protestan dan Masjid Agung Ibnu Batulah.

Meskipun menunjukkan perbedaan yang sangat jelas, tempat ini juga menunjukkan kerukunan dan toleransi umat beragama di Bali. Tentunya hal ini selaras dengan semboyan bangsa Indonesia “Bhinneka Tunggal Ika”. Yaitu, berbeda-beda, tetapi tetap satu jua.

Sebagai manusia yang diciptakan oleh Tuhan dengan predikat makhluk sosial, manusia sebaiknya memberikan manfaat terhadap sekitar, bukan menjadi acuh dan tidak peduli terhadap lingkungan sekitar.

Manusia yang dilahirkan sebagai makhluk sosial merupakan nilai penting. Oleh sebab itu, sebagai makhluk sosial, manusia sebaiknya menciptakan keselarasan sosial di lingkungan sekitar. Tetapi, tugas manusia sebagai makhluk sosial tidaklah semudah yang dibayangkan, karena manusia adalah makhluk yang dituntut agar bisa hidup di antara perbedaan.

Namun faktanya tidak semua orang bisa hidup di tengah perbedaan. Terlebih lagi hidup di Negara Indonesia yang berbhineka. Terdapat banyak perbedaan, mulai dari agama, budaya, bahasa, suku dan lainnya.

Karenanya tidak mengherankan, jika di Indonesia seringkali terjadi konflik, baik itu menyangkut perbedaan suku, budaya, agama dan lainnya yang bernuansa SARA.

Dalam kerangka mempererat rasa kebhinekaan antar sesama warga bangsa, Gubernur Bali Wayan Koster menyatakan ingin memperkuat citra Bali sebagai kawasan yang terdepan dalam pengamalan konsep Bhinneka Tunggal Ika.

“Bali selama ini sudah menjadi percontohan bagi daerah lain sebagai daerah yang menjunjung tinggi toleransi di tengah warganya yang multikultur. Untuk itu, saya ajak semua warga untuk turut menjaga dan bertanggung jawab untuk hal itu,” kata Gubernur Koster saat menerima audiensi DPP Ikatan Keluarga Batak Bali (IKBB), di Denpasar, Senin (1/4/2019).

BACA JUGA:  Wabup Serahkan 1.147 Sertifikat PTSL
Gubernur Wayan Koster disematkan kain ulos saat menerima audiensi DPP IKKB. (foto : ist)

Warga Bali, bagi Koster, bukan berarti orang asli Bali saja, namun juga termasuk mereka yang lama tinggal dan berdomisili di Bali tak peduli dari manapun asalnya.

“Semuanya punya hak dan kewajiban yang sama untuk turut berpartisipasi mendukung program pemerintah daerah Bali,” ujarnya.

Orang nomor satu di Bali itu mengapresiasi komunitas-komunitas asal daerah lain yang sudah menjadi bagian dari warga Bali, turut memperlihatkan keragaman identitas budayanya.

“Ini adalah warna yang berbeda karena Indonesia itu penuh warna dari berbagai budaya, golongan dan juga agama dan tugas kita juga di pemerintah untuk melindungi semua warga yang ada dan berdomisili di Bali tak peduli apapun golongannya,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua Umum IKBB Ponta Simamora menyatakan kebahagiaannya atas perhatian gubernur dan Pemerintah Provinsi Bali yang telah memberikan perhatian terhadap keberadaan komunitas keluarga Batak Bali.

“Tujuan kami tak lain adalah menjalin persaudaraan dengan saudara-saudara kita di Bali dan lebih baik lagi jika bisa berpartisipasi dan berkontribusi dalam membangun Bali ke depan,” kata Ponta.

IKBB, lanjut Ponta, secara organisasi selain memiliki ribuan anggota aktif juga memiliki lembaga kesenian yang bertugas untuk melestarikan kesenian khas Batak di Bali seperti tarian, tenun dan ukiran.

“Senang sekali jika ke depannya kami bisa diikutsertakan dalam gelaran Pesta kesenian Bali, di samping tentu kami perlu masukan dan pemahaman dari Bapak Gubernur mengenai visi dan misi untuk pembangunan Bali,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, komunitas IKBB juga berkesempatan menyematkan kain tradisional batak yakni ulos kepada Gubernur Koster sebagai tanda persaudaraan.

“Penyematan kain ulos ini bermakna tanda kasih, dari orang yang mengasihi kepada orang yang dikasihi. Juga sebagai simbolis doa agar orang diberikan keselamatan dan kesehatan dalam menjalankan tugasnya,” ucap Erbin Simanjuntak, penasihat IKBB di sela proses penyematan kain ulos kepada Gubernur Koster. *sas