Wawancara Jurnalistik Bukan untuk Kepentingan Narasumber

Dewa Suta Sastradhinata (kanan) dan Emanuel “Edo” Dewata Oja. (foto : ist)

Beritabalionline.com – Pemahaman tentang teknik dan dasar-dasar wawancara jurnalistik penting bagi wartawan dalam mendapatkan informasi yang aktual dan menarik dari seorang narasumber untuk kepentingan khalayak/publik.

“Ingat, wawancara jurnalistik bukan untuk kepentingan wartawan maupun narasumber/sumber berita, tetapi untuk kepentingan khalayak atau publik,” demikian Wakil Ketua Bidang Organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Bali, Dewa Suta Sastradhinata di Denpasar, Kamis (21/3/2019).

Hal itu disampaikannya saat tampil sebagai salah satu pembicara di hadapan peserta pelaksanaan Peningkatan Kapasitas Wartawan yang digelar PWI Bali bekerja sama dengan Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Diskominfos) Provinsi Bali selama tiga hari (21-23 Maret 2019).

Menurut Sastradhinata yang juga Pemimpin Umum SKM Koran Metro dan Beritabalionline.com, pemilihan topik wawancara maupun penentuan narasumber/sumber berita yang akan diwawancarai haruslah berdasarkan pertimbangan untuk kepentingan khalayak.

“Itulah, mengapa hasil wawancara jurnalistik selalu menarik bagi khalayak, karena memang dirancang untuk kepentingan khalayak. Apalagi kalau sumber berita yang dipilih sangat kompeten dan menarik, pastai hasil wawancaranya akan menarik meski ditulis oleh wartawan yang tidak terkenal,” kata dia.

Pada bagian lain, putra asal Nusa Penida, Kabupaten Klungkung ini juga mengingatkan pentingnya seorang wartawan melakukan persiapan sebelum wawancara/interview.

“Persiapan merupakan bentuk antisipasi terhadap kemungkinan kegagalan dalam menggali informasi (data) seorang wartawan. Sebab, tanpa persiapan maka sama saja wartawan itu ‘mati konyol’  di hadapan narasumber,” tandasnya.

Dijelaskan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan seorang wartawan sebelum melakukan wawancara dengan narasumber. Di antaranya, attitude (sikap dan etika), sopan dan berpakaian rapi, membuat janji dengan narasumber, menkaji/meneliti topik yang akan diwawancarai. Sebab, pengetahuan yang cukup mengenai topik akan memberi kredibilitas di mata narasumber.

BACA JUGA:  Penanganan Covid-19, Pemkab Klungkung Alokasikan Rp 60 M

“Pemilihan topik wawancara dan mengetahui kapasitas narasumber sangat memungkinkan adanya ‘two way traffic communication. Oleh karena itu, seorang wartawan harus menyadari dengan siapa mereka interview. Kalau narasumbernya seorang petani, nelayan maupun pemulung, sebaiknya hindari menggunakan bahasa yang sifatnya ilmiah. Pakailah bahasa yang mudah dimengerti, lugas dan merakyat,” sarannya.

Sementara itu pembicara lainnya, Sekretaris PWI Bali, Emanuel “Edo” Dewata Oja menyatakan, kegiatan Peningkatan Kapasitas Wartawan (PKW) ini dipandang perlu untuk dilakukan, mengingat media massa sekarang ini hampir tidak punya waktu membina wartawannya dalam upaya peningkatan sumber daya manusia.

“Karena itu kami (PWI Bali, red) mengambil inisiatif untuk meningkatkan kompetensi teman-teman wartawan,” ujar pria yang juga Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Bali.

Pria yang akrab disapa Edo itu mengatakan, pihaknya mohon maaf kepada rekan media karena yang mendaftar pada kegiatan ini sekitar 20-an, bahkan hampir mencapai 30 wartawan. Namun, yang terpenuhi hanya 18 orang peserta.

“Ini karena keterbatasan penguji dari Pusat dan Dewan Pers. Oleh karena itu, bagi teman-teman yang belum mendapat kesempatan, saya mohon maaf. Saya berjanji untuk memasukkan mereka pada kesempatan berikutnya,” demikian Bapak dua orang anak ini. (gol)