Warga Jimbaran, Bali, Ikuti Tradisi Siat Yeh, Angkat Tema ‘Life, Love and Peace’

Warga Jimbaran, Kabupaten Badung, Bali saat menggelar ritual ‘Siat Yeh’. (foto : ist)

Beritabalionline.com – Tradisi Siat Yeh kembali digelar dan diikuti ratusan warga Banjar Teba, Kelurahan Jimbaran, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali. Tradisi ini digelar bertepatan dengan ritual Ngembak Geni yaitu, sehari setelah Hari Raya Nyepi.

Tradisi Siat Yeh baru muncul kembali setelah 35 tahun tidak dilaksanakan dan tahun ini adalah tahun kedua tradisi ini dilakukan dengan mengambil tema ‘Manadi Tunggal’ yang bermakna persatuan. Selain itu, tradisi Siat Yeh kali ini juga mengangkat tema, “Life, Love and Peace” (hidup, cinta dan damai).

Setelah upacara Siat Yeh selesai dilaksanakan, seluruh warga banjar baik perempuan maupun laki-laki makan siang bersama, sebagai wujud kekompakan dan rasa solidaritas antar warga, demikian Ketua Panitia, Anak Agung Bagus Cahya Dwi Janatha, Jumat (8/3/2019).

Rangkaian tradisi Siat Yeh ini dimulai denga ratusan warga Banjar Teba berjalan terpisah ke arah barat dan timur. Ada yang menuju ke Pantai Jimbaran atau arah Barat, dan ada juga yang berangkat ke rawa atau suwung yang berada di sisi timur banjar tersebut. Mereka mengambil air suci atau mendak tirta dari dua sumber berbeda untuk kebutuhan digunakan dalam upacara Siat Yeh.

Usai mengambil air, warga lalu kembali bertemu di jalan raya di depan Balai Banjar Teba dengan diiringi tabuh Baleganjur.

Selanjutnya, empat orang perempuan saling berhadapan, masing-masing meletakkan kendi di atas kepala. Kendi tersebut dibenturkan sampai pecah, kemudian air dari dua sumber berbeda itu bercampur. Prosesi tersebut, mengawali rangkaian kegiatan para pemuda yang tergabung dalam Sekaa Teruna Bhakti Asih sebelum saling menyiram.

BACA JUGA:  Dinkes Denpasar Gencar Sosialisasi Pencegahan TBC

Namun, sebelum saling menyiramkan dua mata air laut dan suwung itu, para muda-mudi menyanyikan bait-bait sederhana berirama ala medolanan atau lagu bernuansa permainan anak-anak. Lagu sederhana yang berjenis sekar rare tersebut menceritakan keriangan warga yang tinggal di kawasan pesisir.

Kemudian, para muda-mudi saling menyiram air tersebut yang terbagi atas dua kelompok yang saling berhadapan. Tubuh muda-mudi di sisi barat dilumuri pasir, sedangkan yang di sisi timur dilumuri lumpur.

Hal tersebut sebagai simbolis dari sumber mata air yang mereka gunakan. Pasir sebagai lambang air dari laut, sedangkan lumpur mencerminkan air yang diambil dari rawa atau suwung.

“Untuk makna lagunya, artinya kita hidup berdasarkan dari ibu Pertiwi. Air kan simbol kehidupan, artinya kita mencari kehidupan bahwa tanpa air kita tidak bisa hidup,” terang Wayan Eka Santa Purwita selaku Ketua Pelaksanaan Acara Siat Yeh.

Purwita juga menjelaskan, tradisi Siat Yeh diadakan berdasarkan daerah Jimbaran yang diapit oleh dua mata air. Yaitu, air laut dari sisi barat Pantai Jimbaran, kemudian air tawar dari sisi timur Suwung atau rawa untuk disatukan. Filosofinya biar warga bisa kompak bersatu, disamping tujuannya untuk pelestarian budaya. (agw)