Warga Muslim Bali Anggap Konsep Pariwisata Halal Sandiaga Uno Tak Masuk Akal

Rektor UNHI Denpasar, Prof. Dr. Ir. Made Damriyasa (foto : ist)

Beritabalionline.com – Wacana Calon Wakil Presiden Sandiaga Uno untuk mengembangkan pariwisata halal di Bali tidak hanya memantik penolakan dari para pelaku pariwisata, tetapi juga dari warga muslim sendiri. Salah satunya Mohammad Bakkri, tokoh komunitas muslim yang bermukim di daerah Canggu, Kuta Utara, Badung.

“Gak masuk akal idenya Pak Sandi itu,” ujar pria kelahiran Madura yang sudah bertahun-tahun tinggal di Bali ini saat ditemui di seputaran Denpasar, Selasa (26/2/2019) petang.

Menurut Bakkri, selama bertahun-tahun tinggal dan berwiraswasta di daerah yang dikenal sebagai pusat turis di Bali ini, ia sangat jarang berjumpa dengan wisatawan dari negara-negara Arab.

“Yang jumlahnya membludak itu bule dan turis China. Itu makanya ide Pak Sandi saya bilang gak masuk akal. Ngapain sibuk-sibuk ngurusin yang jumlahnya sedikit, kan lebih bagus yang sudah pasti jumlahnya banyak yang diurusi,” katanya sembari tersenyum.

Bakri khawatir bahwa ide tentang pariwisata halal itu akan menimbulkan kegaduhan yang tidak bermanfaat.

“Apa Pak Sandi itu tidak paham ya bahwa dengan berapi-api ngomongin pariwisata halal itu sama saja artinya dengan bilang bahwa pariwisata Bali itu belum halal. Hal-hal kayak gini kan bikin kita susah karena pariwisata Bali itu sudah menjadi sumber penghidupan jutaan orang, termasuk warga muslim Bali,” tegasnya.

Lanjutnya, sejumlah warga muslim yang bekerja di sektor pariwisata sudah mulai resah dan menghubunginya terkait ketidaksetujuan mereka terhadap apa yang disampaikan Sandiaga Uno itu.

“Kalau urusannya cuma masalah adanya restoran bersertifikat halal dan tempat ibadah, saya rasa Bali memiliki jumlah yang sangat memadai. Hotel-hotel bintang lima di Nusa Dua tiap kamarnya bahkan ada petunjuk arah kiblat-nya. Kayaknya Pak Sandi belum sempat ngecek hal-hal seperti ini sebelum mengeluarkan pernyataan,” sentilnya.

BACA JUGA:  Hari Ini, 5 Pasien Covid-19 di Bali Meninggal Dunia, Sembuh 50 Orang

Bakkri kemudian meminta para tokoh politik pusat untuk lebih bijaksana dalam mengeluarkan pernyataan tentang pariwisata di Bali. Pria murah senyum ini lantas mengingatkan bahwa pariwisata Bali maju karena budayanya yang unik.

“Bali ini daerah yang paling rukun urusan hubungan antar agama. Mohon jangan diusik-usik kerukunan itu semata-mata untuk urusan kampanye politik. Jadi gak usah kasi ide aneh-aneh lah. Di mana langit dipijak, di situ langit dijunjung,” pungkasnya.

Pendapat senada disampaikan pula oleh Rektor Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar, Prof. Dr. Ir. Made Damriyasa. Menurutnya, tidak ada keraguan bahwa keunikan budaya Bali merupakan faktor yang paling menentukan dalam keberhasilan Bali menjadi destinasi wisata terbaik di Indonesia dan, bahkan, di dunia.

Dalam konteks ini paparnya, keberlanjutan pariwisata Bali akan ditentukan oleh kemampuan pemerintah, pelaku pariwisata, serta masyarakar Bali dalam menjaga keunikan budaya tersebut. Termasuk dalam mempertahankan nilai-nilai tradisi, spiritualitas serta kearifan lokal yang menjiwai kebudayaan Bali.

“Konsep-konsep pariwisata yang berpeluang mengikis keunikan budaya tersebut tentunya harus ditolak dengan tegas. Pariwisata halal termasuk ke dalam konsep-konsep itu,” terangnya.

Damriyasa menghargai dukungan yang diberikan komunitas muslim Bali dalam penolakan atas konsep pariwisata halal tersebut.

“Komunitas-komunitas muslim di Bali banyak yang usianya sudah melampaui beberapa abad, sehingga mereka tidak hanya paham tentang kebudayaan Bali tetapi juga telah menjadi bagian dari kebudayaan Bali itu sendiri. Karena itu saya tidak heran bahwa mereka menolak konsep pariwisata halal ini,” kata Darmika. (agw)