Mendikbud Telusuri Viral Video Anak SD Nyanyi ‘Ayo Kita Pilih Prabowo-Sandi’

Mendikbud Muhadjir Effendi. (foto : net)

Beritabalionline.com – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhajir Effendi menginstruksikan anak buah telusuri viral video anak sekolah dasar di kelas menyanyikan lagu ‘Ayo Kita Pilih Prabowo-Sandi’. Hingga saat ini belum diketahui peristiwa tersebut terjadi di daerah mana.

“Sedang diselidiki dari mana asalnya,” singkat Muhajir saat dikonfirmasi awak media di Jakarta, Selasa (26/2/2019).

Muhajir menduga, nantinya akan ada wali murid tak terima anaknya diajari seperti itu hingga akhirnya melapor.

“Nanti ada orang tuanya yang tidak terima dan lapor. Kita sambil tunggu,” tambahnya.

Sebelumnya, beredar video anak sekolah dasar di kelas menyanyikan lagu ‘Ayo Kita Pilih Prabowo-Sandi’. Video berdurasi 29 detik itu beredar sejak Senin (25/2), dan diunggah oleh akun Twitter @AhlulQohwah.

Dalam video terlihat anak-anak SD berpakaian batik  kompak berdiri sambil menyanyikan lagu jargon Capres dan Cawapres Prabowo-Sandi di dalam kelas. Belum diketahui lokasi anak itu sekolah dan orang yang melakukan perekaman.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) masih menelusuri video tersebut. KPAI sudah berkoordinasi dengan tim siber Polri sejak mendapat aduan video itu dari masyarakat semalam.

“Masih menelusuri titik lokasi kejadian dibantu tim siber Polri,” kata Ketua KPAI Susanto saat dikonfirmasi merdeka.com.

Susanto menjelaskan, sesuai Pasal 15 Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang perlindungan anak ditegaskan bahwa anak berhak dilindungi dari penyalahgunaan dalam kegiatan politik. Pelanggar aturan tersebut dikenakan dapat dipenjara selama lima tahun dan didenda Rp 100 juta.

Komisoner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti menambahkan agar dinas pendidikan di daerah mengingatkan kepala sekolah dan guru netral dalam hajatan Pemilu 2019 ini. KPAI mengingatkan agar lembaga pendidikan dan sekolah bebas dari politik praktis.

BACA JUGA:  Arus Balik Mudik Idul Fitri Jadi Ancaman Baru Penyebaran Covid-19

“KPAI menyampaikan keprihatinan atas kasus politisasi anak oleh pendidik di sekolah, padahal sekolah adalah zona yang seharusnya steril dari politik. Sama anak yang sudah hak pilih saja kalau di sekolah tidak boleh dipengaruhi, apalagi ini anak SD,” kata Retno. *itn