Cok Ace: Konsep Wisata Halal Tak Sesuai Branding Pariwisata Bali

Ketua PHRI Bali, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati (Cok Ace)

Beritabalionline.com – Konsep pariwasata halal yang dilontarkan Calon Wakil Presiden Sandiaga Salahuddin Uno memantik beragam tanggapan dari para pelaku pariwisata di Pulau Dewata. Ketua PHRI (Persatuan Hotel dan Restoran Indnonesia) Bali, Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati menyatakan konsep tersebut tidak cocok dikembangkan di Bali.

“Pariwisata halal tidak sesuai dengan potensi, karakter, serta branding pariwisata Bali yang selama ini telah mendunia. Jika konsep itu dipaksakan malah akan menyebabkan kemunduran pariwisata Bali. Karena alasan inilah maka semua pelaku pariwisata di Bali menolak konsep pariwisata halal itu,” kata pria yang akrab disapa Cok Ace, di Denpasar, Senin (25/2/2019) malam.

Menurut Cok Ace, konsep pariwisata halal layak dikembangkan di destinasi-destinasi wisata yang memiliki kedekatan kultur dengan kebudayaan Timur Tengah dan memiliki potensi untuk menarik kedatangan pelawat dari kawasan itu.

Ditambahkan, potensi wisatawan Timur Tengah bagi Bali sangat kecil sehingga secara pertimbangan ekonomi tidak masuk akal melakukan investasi besar-besaran membangun pariwisata halal di Bali.

Merujuk data pariwisata Bali menunjukkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir penyumbang wisatawan terbanyak adalah negara-negara Asia seperti China, Jepang, Korea, Taiwan dan India, serta negara-negara Barat seperti Australia, Inggris, Amerika, Jerman, Perancis dan Belanda.

Beragam wisata kuliner Bali yang disukai wisatawan mancanegara maupun nusantara.

Dan inilah, menurut Cok Ace, potensi pasar yang harus terus menerus dijaga dan dikembangkan. Selain itu, negara-negara pasar terbesar tersebut juga mencerminkan hubungan yang erat dengan karakter pariwisata Bali.

“Karakter pariwisata kita adalah pariwisata budaya, sebuah model pembangunan pariwisata yang bersifat kerakyatan dan berkelanjutan. Pariwisata budaya ini dijiwai oleh kearifan lokal masyarakat Bali dan secara filosofis dilandasi oleh ajaran Hindu,” paparnya.

BACA JUGA:  Kenaikan Harga Tiket Pesawat Akan Pengaruhi Inflasi

Lebih jauh dikatakan Cok Ace, wisatawan dari negara-negara barat datang ke Bali karena tertarik dengan keunikan kebudayaan Bali. Sedangkan wisatawan dari negara-negara Asia yang berkunjung ke Bali karena merasakan adanya hubungan kultural yang dekat dengan Bali.

Contohnya China dan India. Kedua wilayah ini sudah memiliki hubungan kebudayaan dan ikatan emosional dengan Bali sejak berabad-abad lampau.

Menurutnya, kebijakan pengembangan pariwisata Bali sudah tepat. Selain itu, konsep pariwisata budaya ini telah menjadi branding yang sangat kuat di tingkat global dan telah terbukti membawa kemakmuran bagi para pelaku industri pariwisata serta masyarakat Bali.

Di tataran global, branding itu membuat Bali dikenal sebagai The Last Paradise, surga terakhir yang dihuni oleh pemeluk Hindu yang selalu menjaga hubungan harmonis antara manusia dengan Pencipta dan Alam-nya.

“Branding ini bisa rusak jika kita mengembangkan konsep pariwisata yang tidak cocok dengan keunikan dan karakter budaya Bali, misalnya konsep pariwisata halal itu,” demikian Cok Ace yang juga Wakil Gubernur Bali. (agw)