Menag Tegaskan Perbedaan Keyakinan Merupakan Anugerah

Menag Lukman Hakim Saifuddin dalam dialog dengan penyuluh agama se-Bali. (foto : Agung W/Beritabalionline.com)
Beritabalionline.com – Perbedaan keyakinan diharapkan tidak sampai membuat umat manusia terkotak-kotak karena perbedaan merupakan kehendak dari Tuhan. Hal itu dikatakan Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin dalam dialog dengan 1.200 lebih penyuluh agama se-Bali.
“Sebesar, sekeras, setajam apapun perbedaan antarkita, baik itu perbedaan pemikiran, perbedaan tata cara menjalankan ritual keagamaan, bahkan perbedaan keimanan, sesungguhnya perbedaan ini adalah kehendakNya, kehendak Tuhan. Justru karena itulah kebersamaan itu kebutuhan,” ucap Menag, Sabtu (23/2/2019) di lapangan Renon, Denpasar.
Dalam kegiatan yang juga dihadiri Wagub Bali Cok Ace dan Kakanwil Agama Provinsi Bali I Nyoman Lastra ini, Menag Saifuddin menambahkan, agama jangan sampai membuat orang takut lalu menjauh. Lanjutnya, justru karena berbeda keyakinan maka umat harus bersatu dan harus menghargai keberagaman.
“Kita sebagai bangsa yang memang hakekatnya majemuk harus bersatu, harus ada kebersamaan di antara kita. Bukan lalu kemudian malah membuat friksi-friksi dan terpisah-pisah. Maka saya berharap para penyuluh agama agar mampu terus menjaga dan memelihara sekaligus merawat, menyebarkan agama sebagaimana yang diwariskan oleh para pendahulu-pendahulu kita,” ujar Menag.
Pelepasan enam ekor burung merpati sebagai simbol keberagamaan. (foto : Agung W/Beritabalionline.com)
Ia juga berharap agar semua lebih mengedepankan rasa syukur lantaran bisa hidup di negara yang oleh dunia dikenal sebagai negara dan bangsa yang sangat religius. Ditambahkan, cara mensyukuri yakni tidak cukup hanya menjaga dan memelihara tapi juga dituntut untuk mengembangkannya sesuai dengan konteks kekinian.
“Kita bisa hidup seperti sekarang adalah buah hasil dari benih-benih yang ditanam oleh para pendahulu, para orang-orang tua, para leluhur kita. Mereka menebarkan esensi ajaran agama, substansi ajaran agama yang memanusiakan manusia. Bukan sebaliknya agama digunakan sebagai alat yang justru antar sesama umat saling merendahkan harkat, derajat, martabat kemanusiaan kita,” papar Menag.
Dalam dialog bertajuk “Sapa bersama Menag H. Lukman Saifuddin dan Gubernur Bali, sekaligus Penguatan Tiga Matra Kementerian Agama untuk Memperteguh Moderasi Beragama Menjaga Umat Integrasi Data Kebersamaan”, yang diselenggarakan Kantor Wilayah Kemenag Provinsi Bali ini, sejumlah penyuluh minta agar nasib mereka ke depannya bisa ditingkatkan.
Seperti disampaikan penyuluh agama dari Buleleng yang berharap honor mereka bisa mengikuti UMR serta diberikan kendaraan untuk memudahkan tugas di lapangan. Tak hanya itu, para penyuluh juga berharap bisa menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN).
Diakhir dialog, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin melepas enam ekor burung merpati sebagai simbol keberagamaan yang tumbuh dan saling bergandeng tangan di Indonesia. (agw)
BACA JUGA:  Tim Covid-19 RS Wangaya, Damakesmas dan Damapancana Siaga 24 Jam saat Nyepi