Kemunculan Tari Rejang Renteng Baru Diharapkan Tak Mengurangi Kesakralan Tari Wali

Seminar dan Workshop Tari Rejang Renteng yang digelar UPT Taman Budaya Provinsi Bali. (foto : ist)
Beritabalionline.com – Sesolahan tari baru Rejang Renteng yang belakangan ini marak muncul di beberapa kegiatan ritual dikhawatirkan akan mengaburkan nilai kesakralan tarian tersebut. Demikian terungkap dalam seminar dan workshop Tari Rejang Renteng yang digelar UPT. Taman Budaya Propinsi Bali, di Wantilan Taman Budaya, Art Center Denpasar, Kamis (21/2/2019).
“Saya khawatir kemunculan tari Rejang Renteng sebagai tarian baru, bahkan dengan kesemarakan yang ditonjolkan akan menggangu keberadaan tari wali tersebut. Trend tari  rejang yang bermunculan saat ini memang di satu sisi ada energi baru atau ada hal positif. Hanya saja pertanyaannya, dengan hadirnya tari wali yang baru itu, lalu bagaimana dengan tari wali yang sudah ada,” kata budayawan, Prof. I Wayan Dibia yang menjadi salah satu narasumber dalam seminar tersebut.
Prof. Dibia mengungkapkan, di salah satu kecamatan di Kabupaten Karangasem ditemukan sebanyak 27 jenis tari rejang, yang masing-masing memiliki kekhasan berbeda antara satu dengan yang lainnya. Padahal, bicara tari rejang sebagai tari wali pasti ditarikan dengan proses ritual.
“Sedangkan sekarang ini kita melihat banyak tari rejang digunakan pada acara-acara diluar  konteks ritual, seperti festival, bahkan dipertontonkan untuk kepentingan politik, setelah itu tiba-tiba tari rejang disuguhkan pula di pura,” ucapnya.
Lebih jauh mantan Rektor ISI Denpasar ini menambahkan, tari wali merupakan tari ritual yang sudah menjalani proses sakralisasi yang cukup panjang. Ia lalu mempertanyakan, bagaimana bisa tari rejang yang baru sudah dapat tampil di Penataran Agung Pura Besakih, padahal tari wali cenderung tidak boleh mengutak atik proses ritusnya.
“Persoalan yang kita hadapi adalah bagaimana menempatkan tarian ini sesuai dengan peruntukannya dan tatwanya. Harus ada formulasi baru agar tidak merubah tatanan spiritual, sehingga tidak menjadi konflik antar seniman yang ngaturan ngayah. Misalnya, saat proses upacara di pura, antara penari Topeng yang mengiringi Ratu Peranda Mamuja tidak berbenturan gara-gara rejang renteng yang ditampilkan menghabiskan waktu proses upakara, dan ini sudah ada kasusnya di wilayah Gianyar,” jelasnya.
Sementara itu narasumber lainnya, Ketut Sumarta dari Majelis Utama Desa Pakraman (MUDP) Provinsi Bali memiliki beberapa pandangan terkait kesemarakan tari rejang. Menurutnya, sejak tari rejang mulai bermunculan, perempuan Bali yang dulunya malu ketika ngaturang ngayah di Pura, sekarang berlomba-lomba tampil dengan dandanan yang luar biasa.
“Ini aspek positif bagi pembinaan adat, dimana kegairahan perempuan Bali ikut ambil bagian dalam kegiatan tradisi, begitu pula aspek ekonomi dapat bergerak. Biasanya dulu ibu-ibu ngerumpi sekarang mulai fokus membicarakan ngerejang, ini positif bisa membangkitkan kesenian,” kata Sumarta.
Kendati demikian, ia sependapat dengan Prof. Dibia, yakni Tari Rejang Renteng saat ditampilkan harus mengikuti proses ritual serta melalui proses sakraliasi. Kepada prajuru desa yang belum memiliki rejang ia mempersilahkan membuat, tetapi bagi desa yang memiliki rejang dan sudah menjadi tari wali, agar tari yang sudah ada tidak diutak-atik lagi.
“Saya mengusulkan kepada UPT. Taman Budaya, agar selesai seminar ini bisa merekomendasikan kepada Dinas Kebudayaan untuk menyamakan persepsi dengan pihak terkait di antaranya MUDP, PHDI, Listibya, Pemerintah dan seniman untuk membuat kesatuan tafsir tentang rejang. Tari Rejang Renteng ini harus ada aspek kesatuan tafsir, kalau masuk Tari Wali harus melalui proses sakralisasi, tatwanya jelas, sehingga masyarakat paham dan tidak bingung,” sarannya.
Sedangkan njarasumber lainnya, yakni Ida Ayu Diastini memberikan materi Tari Rejang sesuai pakemnya. Seperti tata pakaian, dan pakem tari yang diikuti para peserta dari kota/kabupaten se-Bali.
Kepala UPT. Taman Budaya Denpasar I Made Suarja menjelaskan, kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman terhadap kesenian Tari Rejang Renteng, karena saat ini masih banyak masyarakat kebingungan memahami munculnya tari rejang.
“Jadi kita mengundang perwakilan kota/kabupaten se-Bali, dan menghadirkan para pembicara yang kompeten di bidangnya,” kata Made Suarja yang didampingi Ketua Panitia Workshop Ni Komang Sriani. (agw)
BACA JUGA:  AWK Dorong Peningkatan Kualitas SDM Wartawan dan Usulkan Renovasi Gedung PWI Bali