Kendala Alat Bukti, Polda Bali Hentikan Penyelidikan Dugaan Kasus Pedofil

Kabid Humas Polda Bali Kombes Pol Hengky Widjaja (foto : ist)
Beritabalionline.com – Polda Bali menghentikan proses penyelidikan dugaan pedofilia di Asrham GPS Klungkung. Penyidik beralasan tidak bisa mengumpulkan alat bukti yang mendukung guna membuktikan apakah benar telah terjadi dugaan peristiwa tersebut.
“Selain itu agar kasus-kasus seperti ini tidak dipolitisir karena akan mengingatkan korban kembali pada trauma masa lalunya,” kata Kabid Humas Polda Bali Kombes Pol Hengky Widjaja dalam keterangannya, Rabu (20/2/2019) di Mapolda Bali.
Kabid Humas menerangkan, sebelumnya Polda Bali telah memintai keterangan terhadap 7 orang yang ikut hadir dalam pertemuan di rumah seorang psikiater sekitar bulan Maret 2015 silam. Ketujuh orang tersebut mengaku mendengar testimoni dari seorang laki-laki yang mengaku pernah mendapat pelecehan seksual dari guru spiritualnya di Ashram GPS, Klungkung, ketika belum berumur 18 tahun.
Mulanya menurut saksi-saksi, korban kooperatif dan akan bersedia untuk melaporkan peristiwa yang pernah dialaminya ke kepolisian. Namun ketika hari H dan diajak melapor oleh pendamping dari LBH, korban tiba-tiba mengaku tidak bersedia untuk melaporkan peristiwa yang dialami sehingga peristiwa tidak jadi dilaporkan.
Hal yang sama juga dilakukan salah satu korban yang saat ini berumur 24 tahun. Awalnya ia berjanji untuk bertemu dengan penyidik pada tanggal 5 Pebruari 2019, namun pada saat hari yang dijanjikan, pemuda tersebut tidak jadi melapor.
“Yang bersangkutan mengirim pesan melalui WhatsApp yang intinya, “meminta maaf setelah mengaku merenung, dia tidak mau lagi mengingat hal yang sudah lewat, dan minta tolong jangan diganggu dan mengaku sudah bahagia dengan kehidupannya yang sekarang dan meminta pengertian penyidik,” kata Kabid Humas.
Kombes Hengky juga menjelaskan, atas kasus ini penyidik tidak bisa melakukan penyidikan tanpa adanya keterangan korban (korban masih hidup/sehat) karena keterangan saksi-saksi yang baru diperoleh, hanyalah saksi yang mendengar cerita dari orang yang diduga sebagai korban dan bukan saksi yang mengalami atau mengetahui peristiwa secara langsung (Testimonium de Auditu).
“Kemudian terhadap informasi adanya rekaman pengakuan pelaku, sampai saat ini belum diperoleh penyidik. Pun demikian bila benar ada rekaman tersebut, maka rekaman tidak bisa dijadikan sebagai alat bukti berdiri sendiri tanpa didukung oleh alat bukti yang lain (keterangan korban, saksi, surat, ahli dan petunjuk) di mana pengakuan pelaku baru bernilai sebagai alat bukti bila diucapkan di depan sidang pengadilan (keterangan terdakwa),” terangnya. (agw)
BACA JUGA:  Curi Data Nasabah Bank, Dua WN Bulgaria Diciduk Polda Bali