BPOM Denpasar Mencatat Jumlah Pelanggaran Iklan Obat dan Makanan Meningkat

BPOM Denpasar sosialisasi sejumlah peraturan periklanan produk obat dan makanan. (foto : ist)

Beritabalionline.com – Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Denpasar mencatat jumlah iklan obat dan makanan yang melanggar dan tidak memenuhi ketentuan dari tahun ke tahun terus meningkat.

“Iklan obat dan makanan yang tidak memenuhi ketentuan banyak kami temukan. Ini harus jadi catatan penting bagi produsen,” ujar Kepala BPOM Denpasar Dra. I Gusti Ayu Adhi Aryapatni, Apt. pada acara sosialisasi terkait sejumlah peraturan periklanan produk obat dan makanan di Aula BPOM Denpasar, Rabu (6/2/2019).

Menurut Aryapatni, pada 2016 dari 701 iklan obat dan makanan, ditemukan sebanyak 50,3 persen yang tidak memenuhi ketentuan. Angka ini meningkat menjadi 45,7 persen dari 1.697 iklan pada 2017. Lalu naik lagi menjadi 753 iklan tidak memenuhi ketentuan atau 40 persen dari total 1.883 iklan pada 2018.

Sejumlah temuan lainnya yaitu rancangan iklan belum disetujui, iklan tidak sesuai dengan rancangan yang disetujui. Iklan berlebihan atau berlebihan, nomor izin edar tidak terlihat. Kemudian spot peringatan perhatian tidak terlihat, nama produsen tidak terlihat hingga nama zat adiktif tidak terlihat.

“Tindak lanjut hasil pengawasan ini, BPOM Denpasar telah memberikan peringatan keras kepada produsen, lalu tindak lanjut langsung ke lokasi usaha produsen,” terang Aryapatni.

BPOM berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan setempat melakukan pembinaan kepada Pelaku Industri Rumah Tangga (PIRT). BPOM mengingatkan para produsen makanan dan obat agar memperhatikan aturan dalam mengiklankan produknya.

“Iklan yang dibuat harus bertanggung jawab kepada publik, memberikan edukasi jangan semata mengiming-imingi untuk membeli,” kata Aryapatni, mengingatkan. (tra)