DPRD Bali Minta Polisi Usut Tuntas Skandal Fedofilia

Foto ilustrasi.

Beritabalionline.com – Komisi IV DPRD Bali menyoroti kasus dugaan pelecehan seksual yang dialami sejumlah anak di salah satu ashram di Kabupaten Klungkung. Terkait dugaan skandal itu, Komisi IV sudah memanggil sejumlah pihak yang diduga mengetahui kasus tersebut.

Mereka yang dimintai keterangan adalah Siti Sapura alias Ipung aktivis dari Pemerhati Anak dari Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan Dan Anak (P2TP2A) dan Komunitas Solidaritas Warga Anti Feodofilia (SWAF).

Kedatangan Siti Sapura dan Komunitas Swaf, Rabu (6/2/2019) diminta oleh Komisi IV DPRD Bali untuk memberikan penjelasan terkait kasus dugaan pelecehan seksual yang diduga melibatkan seorang tokoh yang juga merupakan salah satu pengasuh di ashram tersebut.

Di hadapan Anggota DPRD Bali Komisi IV, Ipung berserta beberapa Komunitas Swaf menjelaskan, kronologi kejadian dugaan kasus pelecehan kepada para anak-anak di Ashram Klungkung Bali.

Mulai dari kasus kaburnya 12 anak di tahun 2008 dari Ashram tersebut, sampai pernyataan IG yang akan berhenti melakukan pelecehan seksual dan berhenti menjadi Guruji di ashram itu.

I Made Dauh Wijana salah satu anggota DPRD Komisi lV setelah mendengar semua penjelasan tersebut mengatakan, kasus pedofilia sudah sering terjadi di Bali tetapi kasusnya belum terselesaikan dengan baik.

“Kasus pedofilia memang harus kita hentikan, sebab sangat berbahaya bagi generasi kita. Belum lagi penyimpangan pedofilia sangat rentan terhadap penyebaran penyakit HIV dan AIDS. Oleh karena itu, ancaman terhadap parktik asusila ini demikian hebat,” ujarnya.

Menurut dia, karena kasus pedofilia ini adalah ancaman yang sangat serius. Maka, dengan segalah strategi harus bisa diungkap walaupun ada beberapa hambatan “Tidak ada kata lain, harus mengungkap kasus ini. Kalau selama ini, ada hambatan nanti kita akan merubah strategi dan akan berkoordinasi dengan baik,” tegasnya.

BACA JUGA:  Humas dan Protokol Kota Denpasar Gelar Pelatihan 'Interpersonal Skills'

Wijana menilai, dari penjelasan Ipung dan kawan-kawan Swaf terkait dugaan kasus dugaan pedofilia terhadap anak-anak ashram itu sudah sangat baik. Kemudian, indentitas dugaan pelakunya juga sudah mulai terungkap dan nantinya itu akan menjadi entry point.

Pada bagian lain Wijana mengingatkan, disisi lain juga perlu adanya edukasi masyarakat untuk mengwaspadai, karena bisa saja lingkungan terdekatnya ada seorang pedofilia.

“Profil-profil orang yang pedofilia harusnya dikenal, karena profil itu menentukan. Oleh karena itu, bagi kita tidak ada lain dan kita harus bersama-sama komponen masyarakat. Saya yakin masyarakat pasti setuju untuk mengentikan kasus pedofilia ini. Karena sangat berdampak pada kehidupan generasi kita ke depan,” tandasnya.

Menurut Wijana, untuk kasus dugaan pelecehan tersebut sudah seperti Gunung Es yang harus diselesaikan tahap demi tahap. Ia pun berharap kasus tersebut bisa dituntaskan sampai ke akar-akarnya.

“Nanti kita akan bawa dalam rapat pembahasan, dan bila perlu nanti kita juga akan dorong Bapak Gubernur untuk berkoordinasi dengan Polda lebih jauh. Sehingga penanganan kasus ini nanti powernya lebih kuat dan sekaligus bisa ditindaklanjuti. Paling tidak ada yang terjerat, sehingga nanti ada efek jera dan lainnya,” harapnya.

Wijana juga akan memanggil pihak Polda Bali, berkaitan dengan kasus ini, untuk melakukan koordinasi.

“Kita juga akan berkoordinasi, karena kasusnya berkaitan dengan hukum. Saya yakin dari pihak Polda dengan kinerja yang sangat baik akan merespon dengan sangat baik pula. Tentu, kita akan carikan jadwal dulu,” demikian Dauh Wijana, seraya menyatakan bahwa kasus tersebut dengan segala upaya harus bisa diungkap agar belakangan tidak terjadi lagi kasus pedofilia menimpa anak-anak di Bali. *agw