Bupati Eka Serahkan Punia untuk Pura Desa Sila Sedana Lombok Utara

Bupati Eka saat menyerahkan dana punia ke pengempon Pura Desa Sila Sedana, Lombok Utara.(foto:humastabanan).

Beritabalionline.com – Akibat gempa bumi 7 SR yang mengguncang lombok Utara beberapa waktu lalu, meratakan semua bangunan yang ada termasuk Pura Desa Sila Sedana yang berlokasi di Desa Selelos Kecamatan Gangga, Lombok Utara. Untuk bisa membangun pura ini kembali, pengempon pura yang terdiri dari 128 KK berusaha menggalang dana, salah satunya ke Tabanan.

Bupati Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti berinbisiatif melakukan koordinasi penggalangan dana punia tersebut dengan mengajak seluruh OPD yang ada. Akhirnya terkumpul dana sebesar Rp 244.056.000. Dana tersebut langsung diserahkan bupati Eka kepada perwakilan pengempon Pura desa Sila Sedana didampingi Kapolres Tabanan AKBP I Made Sinar Subawa di wantilan Pura Luhur Batukaru, Selasa (29/1/2019).

Bupati Eka berterimakasih kepada Kapolres Tabanan, AKBP Made Sinar Subawa yang telah membantu memfasilitasi sehingga dana punia ini tepat sasaran. Dana punia yang terkumpul ini tidak diambil dari dana APBD, tetapi urunan iklas dari OPD di kabupaten Tabanan. “Ini dari kantung pribadi bukan dari APBD. Setelah terkumpul saya tambahkan,” tandasnya.

Sebagai sesama amat Hindu, menurut Bupati Eka menjadi kewajiban untuk saling membantu. Terlebih umat Hindu di Lombok Utara pun sedang kesusahan dan belum pulih benar dari bencana gempa. Makanya pihaknya berinisiatif melakukan penggalangan dana punia ikut meringankan beban warga setempat. “Kalau tergantung sepenuhnya pada umat Hindu di sana, tentu tidak bisa karena kondisi ekonomi secara umum juga belum pulih betul. Kewajiban kita untuk membantu sesama,” sebut Bupati Eka.

Sementara itu Kelian Banjar Dharma Susila Desa Selelos yang mewakili pengempon Pura Desa Sila Sedana, Made Budi mengatakan bencana gempa beberapa waktu lalu hampir meratakan semua bangunan di Pura Desa Sila Sedana. “Padahal Pura tersebut baru saja selesai dibangun dan kami berencana menggelar upacara Ngenteg Linggih,” sebutnya.

BACA JUGA:  Ratusan Personel Polresta Denpasar Amankan Aksi Damai Hari Buruh

Dikatakan, pembangunan Pura Desa Sila Sedana dilakukan sejak tahun 2011. Pura ini dibangun dengan urunan dari pengempon dengan besaran Rp 4.750.000 per KK dan mendapatkan bantuan untuk pembangunan Bale Agung sebesar Rp 95 juta dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Pura dibangun hingga tahun 2017 dan pengempon sudah menyiapkan banten untuk upacara. “Untuk bangunan saja dana habis sekitar Rp 980 juta,” jelas Made Budi.

Namun saat persiapan upacara Ngenteg Linggih sudah 95 persen dan upacara akan berlangsung 1,5 bulan lagi, bencana gempa melanda. Enam pelinggih rata dengan tanah. Bangunan Padmasana terpenggal dari ketinggian tujuh meter sekarang tinggal tiga meter. Yang rusak ringan dan masih berdiri adalah bangunan bale agung dan bale kulkul. “Semua persiapan upacara sudah hampir selesai juga rusak dan tidak bisa dipakai,” ungkap Budi.

Kalau dihitung dari kerusakan menurut Budi pihaknya membutuhkan dana setidaknya Rp 775 juta. Saat ini dana yang sudah terkumpul sekitar Rp 350 juta. “Dengan dana yang ada ini, kami akan mulai rembuk untuk pembangunannya sambil pelan-pelan memenuhi sisa dananya,” ujar Budi.

Ditambahkan, pura tersebut sudah ada di tahun 1973. Bangunannya masih sederhana. Saat cita-cita memiliki Pura Desa dengan bangunan yang lebih baik tercapai, justru kejadian tidak terduga menimpa dan menghancurkan seluruh bangunan yang telah dibuat susah payah warga. (rls)