Tokoh Lintas Agama di Bali Panjatkan Doa Syukur atas Bebasnya Ahok

Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. (foto : suara.com)

Beritabalionline.com – Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) keluar dari penjara. Ahok bebas, Rabu (24/1/2019) setelah menjalani hukuman selama 1 tahun 8 bulan 15 hari di Rumah Tahanan (Rutan) Mako Brimob atas kasus penodaan agama terkait pernyataan soal Surat Al-Maidah 51.

Ditemui usai acara doa bersama sebagai wujud syukur bebasnya Ahok yang digelar masyarakat dari elemen lintas agama di Bali, salah satu pengacara Ahok, I Wayan Sudirta mengatakan, ia membela Basuki Tjahaja Purnama karena mantan gubernur DKI Jakarta tersebut merupakan simbol Khebinekaan.

“Pak Basuki Purnama itu simbol Khebinekaan kita, simbol dari minoritas. Dia ditekan melalui demo-demo. Kalau Ahok saja bisa dibuat seperti itu, bagaimana dengan kaum minoritas lain. Ini salah satu alasan kenapa saya berani menjadi pengacara Ahok, meskipun besar sekali resikonya,” kata Sudirta, Kamis (24/1/2019) di Inna Bali Hotel, Denpasar.

Wayan Sudirta mengungkapkan, Ahok secara hukum tidak bersalah. Namun karena adanya tekanan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu, Ahok harus dipenjara. Pria kelahiran Belitung tersebut juga rela dibui dan menjalani hukuman hingga selesai meski awalnya ada kesempatan untuk mengajukan banding.

“Pak Ahok pernah berkata seperti ini, “nanti kalau saya banding, dan banding saya berhasil, nanti Pak Jokowi yang jadi sasaran karena dikira melindungi penista agama. Apa jadinya negeri ini. Jadi biarkan saja, saya akan jalani”. Sehingga saat itu juga dicabut dan tidak banding,” terang Sudirta.

Ditanya rencana kedepan setelah keluar penjara, Sudirta menerangkan jika Ahok berencana menulis buku serta menghadiri undangan-undangan sebagai pembicara yang datang dari luar negeri, termasuk di Indonesia. Disinggung apakah Ahok akan kembali terjun ke dunia politik, Sudirta menjawab tidak tau.

“Kalau untuk politik Pak Ahok tidak mau menjawab, makanya saya tidak tau. Tapi Anda (wartawan, red) pasti tau yang namanya politisi menurut literatur seperti candu. Politisi tidak sekali mati. Tapi saya bisa katakan, Pak Ahok sekarang lebih matang orangnya,” tutup Wayan Sudirta. (agw)