Sikap “Lembek” Gubernur Kepada 3 Ormas Besar di Bali Dipertanyakan

Drs. Made Jiwa Atmaja, SU., (foto : Agung W)

Beritabalionline.com – Langkah Gubernur Bali I Wayan Koster lebih memilih hanya memberikan surat peringatan kepada tiga organisasi kemasyarakatan (Ormas) di Bali mulai dipertanyakan. Gubernur dianggap tidak paham dengan sejarah masa lalu Bali, di mana pada saat itu masyarakat Bali tidak mengenal istilah Ormas.

“Dari segi sejarahnya, sejak dulu masyarakat Bali tidak mengenal Ormas. Kalau preman memang ada, itu pun jumlahnya sedikit dan tidak dikehendaki oleh masyarakat. Nah, kalau Gubernur mengambil sikap melindungi dalam artian akan membina, itu juga belum jelas. Secara struktural dan sosial hal seperti itu tidak ada. Bagaimana caranya gubernur melindungi, padahal seharusnya yang melindungi dan menertibkan Ormas itu aparat keamanan. Ini yang menjadi rancu,” komentar  akademisi Universitas Udayana, Drs. Made Jiwa Atmaja, S.U., dalam wawancara khusus dengan Beritabalionline.com di Denpasar, Selasa (22/1/2019).

Dosen Fakultas Sastra Unud itu menilai, langkah yang diambil gubernur bukan untuk kepentingan masyarakat luas, namun lebih untuk kepentingan politik pribadi. Padahal, poin paling penting terkait keberadaan organ atau organisasi sosial apapun yang ada harus bermanfaat bagi masyarakat.

Namun fakta di lapangan, imbuh Jiwa Atmaja, kondisinya berbeda. Ormas yang seolah-olah bermanfaat bagi penduduk lokal justru kerap mengganggu ketertiban dan keamanan warga lokal.

“Kalau keberadaan Ormas bisa menunjukkan manfaat bagi masyarakat, tentu hal itu sangat diperlukan. Kalau Ormas bisa bertanggungjawab secara hukum, ya harus dipertahankan, tapi harus ada pembinaan kuat di dalamnya untuk menjaga agar Ormas tidak keluar dari jalur yang sudah ada. Itu yang seharusnya menjadi dasar kuat ketika gubernur mengambil langkah melindungi dan akan melakukan pembinaan,” tandas Jiwa Atmaja.

BACA JUGA:  Bupati Giri Prasta Lestarikan Lingkungan dengan Tanam Pohon Badung

Terkait aparat kepolisian mengambil sikap tegas dan meminta agar keberadaan tiga Ormas dibekukan, Jiwa Atmaja mengatakan, Kapolda Bali Irjen. Pol Petrus Golose sebutnya tentu sudah didasarkan pada pertimbangan atau dasar yang kuat, karena melihat keamanan di Bali sudah terganggu.

“Memang hidup ini ada ‘rwa bhineda’ (dua sifat yang berbeda), positif dan negatif. Tapi, kalau dampak negatifnya kepada keamanan lebih besar daripada dampak positifnya, mau tidak mau aparat kepolisian sebagai pemegang hak menjaga keamanan ya harus melakukan seperti itu. Dan pihak sipil tidak punya kekuasaan apapun untuk melakukan itu,” tegas Jiwa Atmaja.

Sebelumnya, Gubernur Bali I Wayan Koster memanggil tiga pimpinan Ormas di Bali ke kantor gubernur. Dalam pertemuan itu, gubernur meminta kepada tiga pimpinan Ormas untuk menandatangani beberapa poin kesepakatan.

“Poin tersebut di antaranya Ormas dilarang melakukan tindakan kekerasan, mengganggu ketenteraman dan ketertiban umum, atau merusak fasilitas umum dan fasilitas sosial, dan atau melakukan kegiatan yang menjadi tugas dan wewenang penegak hukum sesuai ketentuan Peraturan Perundang-undangan,” kata Gubernur  Koster usai pertermuan dengan tiga pimpinan Ormas, Selasa (15/1/2019) sore.

Saat itu Gubernur Koster sempat menangis dan mengatakan akan melakukan pembinaan kepada tiga Ormas dimaksud, yaitu Laskar Bali, Baladika Bali, dan Pemuda Bali Bersatu.

Sementara Kapolda Bali Irjen. Pol Petrus Reinhard Golose menegaskan tidak akan memberikan toleransi terhadap Ormas yang dinyatakan kerap mengganggu ketertiban dan keamanan di Bali. “Jika saat menegur tiga ormas Gubernur Bali sempat meneteskan air mata, maka saya Kapolda Bali menangis memikirkan rakyat Bali. Saya tidak akan menangis untuk tiga ormas. Tapi saya lebih menangis untuk masyarakat Bali,” kata Kabid Humas Polda Bali Kombes Pol. Hengky Widjaja menirukan ucapan Kapolda Bali, Senin (21/1/2019).

BACA JUGA:  Komisi IV DPR RI Serap Aspirasi Pemda dan Masyarakat Bali Terkait Program Pembangunan Infrastruktur

Oleh karena itu, lanjut Hengky Wijaya, Kapolda Bali tetap dalam pendiriannya yakni membekukan tiga Ormas tersebut. Kapolda Bali juga menegaskan bahwa dirinya kini adalah orang Bali.

“Kapolda Bali tetap pada pendirian, yakni membekukan tiga ormas itu. Dan langkah hukum tetap diambil terhadap aksi premanisme yang berlindung dibalik Ormas. Saya sekarang orang Bali,” demikian Kombes Hengky menirukan ucapan Kapolda. *agw