Terjerat Kubangan Prostitusi, Anak Dibawah Umur Dipaksa Layani 10 Pria Hidung Belang

Dua orang penjual anak dibawah umur, NKS dan NWK saat diperiksa petugas. (foto : ist)
Beritabalionline.com – Lima anak peremuan di bawah umur asal Bekasi dan Jakarta dipaksa menjadi pekerja seks komersial (PSK) di kawasan Sanur, Denpasar Selatan. Dua orang pelaku yang diduga sebagai mucikari berinisial NKS (49) dan NWK (51) ditangkap Subdit 4 Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Bali.
“Menurut pengakuan para korban awalnya ditawari kerja sebagai pemandu lagu dan hanya menemani tamu minum di kafe yang ada di Bali. Dalam sebulan mereka dijanjikan mendapat gaji Rp5 juta hingga Rp11 juta. Karena masih anak-anak dan polos, mereka kemudian mau,” terang Ketua P2PT2 Denpasar, Luh Putu Anggreni saat dihubungi Beritabalionline.com, Senin (7/1/2019).
Tiba di Bali bukannya bekerja di kafe seperti yang dijanjikan, korban justru dijadikan PSK dan dipaksa melayani pria hidung belang di daerah Sanur. Dalam sehari, satu anak dipaksa melayani 8 hingga 10 orang laki-laki. Bahkan tidak jarang korban harus bekerja hingga dini hari.
Anggreni menjelaskan, terungkapnya kasus ini setelah salah satu korban asal Bekasi yang baru tiba di Bali, Jumat (28/12/2018) menghubungi keluarganya. Sambil menangis, korban minta dijemput karena ketakukan.
Lebih lanjut dituturkan, korban yang baru datang ini sedang haid sehingga tidak bekerja. Nah dari cerita teman-temannya di tempat penampungan, mereka mengaku bukan kerja di kafe melainkan disuruh melayani tamu (pria hidung belang). Karena ketakutan setelah mendengar cerita dari temannya, korban menghubungi keluarganya minta dijemput.
“Keluarganya lalu menghubungi temannya di Bali, dan temannya ini yang kemudian melapor kepada kami. Ketika kami dikirimi lokasi tempat korban tinggal, kami akhirnya tau bahwa tempat tersebut kawasan prostitusi. Kami kemudian menghubungi korban, mau dijemput kesana atau gimana, namun korban memilih kabur dari penampungan dan kami jemput di suatu tempat saat malam tahun baru,” terang Anggreni.
Kepada P2PT2 Denpasar, korban mengatakan ada empat temannya lagi yang juga minta dijemput. P2PT2 Denpasar kemudian mendamipingi korban melapor ke Polda Bali. Saat ini, kata Anggreni, para korban yang masih berusia 14 hingga 17 tahun telah ditempatkan di Rumah Aman (save house) di daerah Tabanan.
“Total korban ada lima anak, empat anak dari Bekasi dan satu anak lagi dari Jakarta. Kita tengah berkoordinasi dengan P2PT2 di sana untuk bisa memulangkan anak-anak ini,” tutur Anggreni.
Seperti diberitakan sebelumnya, Jumat (2/1/2019) Subdit 4 Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Bali menggerebek sebuah rumah di Jalan Sekar Waru 3B Sanur, Denpasar Selatan karena dijadikan tempat penampungan untuk mempekerjakan anak dibawah umur sebagai pekerja seks komersial.
“Setiap hari, lima remaja berusia dibawah umur ini dieksploitasi pelaku dan dipaksa melayani rata-rata 8 orang tamu dengan tarif Rp250 ribu dan Rp300 ribu perjam. Salah satu dari lima orang korban tidak tahan dan melarikan diri dari tempat penampungan dan melaporkan kejadian tersebut ke Polda Bali didampingi petugas P2TP2A Denpasar,” jelas Kabid Humas Polda Bali Kombes Pol. Hengky Widjaja.
Dalam penggerebekan tersebut, petugas mengamankan dua orang perempuan berinisial NKS (49) dan NWK (51) yang diduga sebagai mucikari. Petugas juga turut menyita barang bukti seperti buku catatan tamu, catatan boking dan pembayaran, foto copy KK dan copy tiket pesawat.
Kedua pelaku dijerat dengan Pasal 2 UU RI nomor 21 tahun 2007 tentang Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) atau Pasal 76F Jo 83 UU RI nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak. (agw)
BACA JUGA:  Sebelum Jenazahnya Ditemukan Terkubur di Kebun, Suarningsih Sempat Mengaku Nyawanya Terancam