Pemkot Denpasar Dorong Mitigasi Bencana Pelestarian Cagar Budaya

Diskusi ilmiah arkeologi terkait mitigasi bencana pelestarian cagar budaya. (foto : ist)

Beritabalionline.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Denpasar, mendukung pelaksanaan mitigasi bencana untuk pelestarian cagar budaya, karena pelestarian warisan budaya memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan dan agama.

“Pemkot mendukung pelaksanaan mitigasi bencana untuk pelestarian cagar budaya, khususnya di Denpasar. Karena cagar budaya memiliki perjalanan sejarah dan peradaban kebudayaan,” kata Sekretaris Kota Denpasar Anak Agung Ngurah Rai Iswara di Denpasar, Senin (17/12/2018).

Ia mengatakan, Pemkot Denpasar tetap konsisten dalam pelestarian kebudayaan, khususnya cagar budaya. Hal ini terbukti dengan terbitnya Perda Nomor 12 Tahun 2015 tentang Pengelolaan Cagar Budaya Sebagai Regulasi Perlindungan, Pemanfaatan dan Pembinaan Cagar Budaya di Kota Denpasar.

“Saat ini, Cagar Budaya di Kota Denpasar yang telah terdata hingga tahun 2018 sekitar 300 unit, baik itu situs, benda, bangunan, struktur dan kawasan cagar budaya,” ujarnya.

Dengan ditemukan berbagai arca-arca bercorak megalitik di Pura Ayun dan Pura Sukun, Desa Peguyangan serta ditemukannya Prasasti Blanjong Sanur yang dikeluarkan oleh Sri Kesari Warmadewa pada tahun 835 Saka (913 Masehi), membuktikan telah terjadi peradaban kebudayaan di Kota Denpasar sejak zaman dahulu.

Selain itu, kata dia, muncul pengaruh Kerajaan Majapahit dengan adanya bangunan bercirikan batu bata merah seperti bangunan Cagar Budaya Pura Maospahit Tonja dan Pura Maospahit Gerenceng serta adanya kerajaan-kerajaan besar di Denpasar seperti Puri Kesiman, Puri Pemecutan, dan Puri Denpasar membuktikan bahwa cagar budaya di Kota Denpasar memiliki nilai historis yang memang sangat perlu untuk dijaga kelestariannya.

Mengingat banyaknya sumber daya arkeologi atau cagar budaya di Denpasar dan Bali pada umumnya, sangat penting dilaksanakan diskusi ilmiah arkeologi yang mengangkat isu strategis tentang mitigasi bencana untuk pelestarian cagar budaya.

BACA JUGA:  Gubernur Jabar Terkunci di Kamar Mandi, Terpaksa Panjat Pintu Toilet

“Kedepan dengan adanya diskusi ini, dapat memberikan dampak positif bagaimana di dalam melestarikan cagar budaya tersebut mengingat akhir-akhir ini bencana alam, seperti gempa bumi yang tentunya tidak bisa diprediksi dapat merusak warisan budaya tersebut,” katanya.

Oleh karena itu, dengan diadakannya diskusi ini dapat memberi solusi agar kelestarian cagar budaya tetap ada dan tidak tergerus zaman.

Sementara itu, Ketua Balai Pelestarian Cagar Budaya Bali (BPCB) Provinsi Bali, I Wayan Muliarsa, mengharapkan mitigasi bencana untuk pelestarian cagar budaya di Bali mampu menanamkan ideologi pelestarian warisan leluhur dengan cara perencanaan-perencanaan penyelamatan cagar budaya jika dipandang terancam oleh bencana, mengingat kerusakan (kepunahan) Cagar Budaya tidak saja karena ulah manusia, tetapi juga oleh alam yang tidak bisa dibendung.

Menurut dia, strategi-strategi mitigasi bencana alam sebagai upaya pelestarian cagar budaya itu sangat penting, mengingat lokasi cagar budaya berada di daerah rawan bencana seperti di Bali, maka dari itu sangat perlu diadakannya diskusi seperti ini. (tra)