Harga Telur Ayam Naik, Kementan Sebut Stok Cukup

Pedagang menata telur ayam untuk dijual pada salah satu toko penjualan telur ayam. (foto:ist)

Beritabalionline.com – Harga telur di sebagian pasar beberapa hari terakhir mengalami kenaikan. Padahal pada pekan ketiga November, harga telur sempat stabil di kisaran Rp 22 ribu per kg.

Presiden Peternak Layer Nasional Ki Musbar Mesdi menyatakan kenaikan harga telur ayam di tingkat konsumen menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) merupakan hal yang wajar. Namun seharusnya tidak terlalu tinggi karena harga di farm gate pun masih terbilang wajar.

Menurut Ki Musbar, tren kenaikan harga pangan termasuk telur ayam memang selalu terjadi setiap menyambut Hari Raya Natal dan Tahun Baru. Biasanya sekitar 10% dan disebabkan oleh adanya peningkatan permintaan.
“Momentum HBKN ini juga membuka peluang kepada para pedagang telur untuk meningkatkan harga jual mereka,” kata Ki Musbar dalam keterangan tertulis, Sabtu (8/12/2018).

Ia juga menyampaikan kenaikan harga telur ayam saat ini seharusnya tidak terlalu dibesar-besarkan hingga membuat iklim pasar tidak sehat.

“Ini seperti dibuat seolah-olah harga Farm Gate di tingkat peternak meningkat. Padahal dalam fakta yang sebenarnya mereka menekan peternak dengan harga serendah-rendahnya dengan cara membatalkan order rutin yang biasa sudah disepakati bersama peternak,” ungkapnya.

Ki Musbar juga menekankan, berdasarkan fakta harga Farm Gate per hari Jumat (7/12) sudah mulai terkoreksi Rp 1.000 per kg, yaitu di kisaran Rp 21 ribu-Rp 22 ribu per kg.

“Herannya, harga di tingkat konsumen malah tetap manteng dan cenderung naik di level Rp 26 ribu-Rp 28 ribu per kg,” ujarnya.

Ia mengatakan modus praktek seperti ini pernah terjadi pada Juli 2018. Harga di tingkat konsumen mencapai Rp 28 ribu-30 ribu per kg. Padahal harga di Farm Gate berada pada level Rp 20 ribu-Rp 22 ribu per kg.

Dengan melihat kondisi ini, Ki Musbar meminta seluruh pemangku kepentingan pebisnis telur konsumsi, mulai dari peternak sampai dengan ke pedagang untuk menjaga kerja sama yang sudah terjalin baik selama ini.

“Kita jaga bersama stabilitas harga telur di tingkat konsumen. Kalau pun mengambil untung ya yang sewajarnya saja sesuai dengan harga acuan yang sudah ditetapkan pemerintah, yaitu Permendag Nomor 96 Tahun 2018” tandasnya.

Sementara itu, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Fini Murfiani menyampaikan bahwa ketersediaan telur dan daging ayam menjelang HBKN sudah mencukupi.

“Jika kondisi harga ini semakin tidak terkendali, pemerintah akan melakukan tindakan dalam pengendalian harga. Yang pasti kita akan selalu berkoordinasi dengan stakeholder terkait,” pungkasnya.

Sebelumnya dalam pemaparan Badan Ketahanan Pangan Kementan memperkirakan ketersediaan bahan pokok lainnya seperti minyak goreng mengalami surplus sebanyak 24,501 juta ton, gula pasir 334 ribu ton, bawang merah 136 ribu ton, daging ayam 335 ribu ton, telur ayam 806 ribu, daging sapi/kerbau 233 ribu ton, cabai besar 90 ribu ton, dan bawang putih 400 ribu ton hingga akhir tahun.(yza)