Perkuliahan di Universitas Dwijendra Denpasar Kembali Normal

I Made Sumitra Chandra Jaya alias Chandra didampingi kuasa hukumnya. (foto : net)
Beritabalionline.com – Perkuliahan dan proses belajar mengajar di Universitas Dwijendra Denpasar, Bali, kembali berjalan normal setelah sebelumnya sempat ditutup kaerena ada konflik di tubuh yayasan perguruan tinggi tersebut.
Dibukanya kembali perkuliahan ini didasarkan atas pertimbangan suasana Kampus Dwijendra yang sudah mulai kondusif sehingga memungkinkan bagi mahasiswa dan dosen mengikuti proses belajar mengajar. Demikian disampaikan Ketua Yayasan Dwijendra sebelumnya, I Made Sumitra Chandra Jaya alias Chandra dalam jumpa wartawan di Denpasar, Kamis (29/11/2018).
“Kampus sudah dibuka juga atas saran Ketua Komisi IV DPRD Bali Pak Nyoman Parta. Saat ini suasana sudah kondusif. Mahasiswa sudah bisa kuliah seperti biasa,” terang Chandra.
Menurut Chandra, mahasiswa juga sudah dikumpulkan oleh Rektor dan diberikan pemahaman dan akhirnya mahasiswa sadari sudah ikut salah dalam kelompok yang teriak-teriak.
“Kami harapkan tidak ada lagi provokasi. Kita sama-sama jaga suasana kondusif dan hormati proses hukum yang sedang berjalan,” harap Chandra.
Seperti diberitakan sebelumnya, Ketua Yayasan Dwijendra yang baru, I Ketut Wirawan beralasan pihaknya berjuang untuk mengembalikan Yayasan Dwijendra dan lembaga pendidikan di bawahnya agar kembali menjadi milik masyarakat Bali dan bukan milik perseorangan seperti saat ini.
Wirawan mengungkapkan jika saat ini Ketua Yayasan Dwijendra sebelumnya I Made Sumitra Chandra Jaya alias Chandra bersama istri, anak, dan menantunya bak “gurita” memegang semua jabatan strategis di sejumlah unit lembaga pendidikan di bawah Yayasan Dwijendra.
Namun pernyataan Wirawan tersebut dijawab oleh Chandra. Dia menilai bahwa beberapa jabatan sterategis di sejumlah unit lembaga pendidikan di bawah Yayasan Dwijendra yang dipegang oleh keluarganya itu sebagai hal yang wajar dan tidak masalah.
“Pemilihan rektor istri saya sudah sesuai mekanisme yakni melalui pemilihan, tidak seperti Wirawan dulu saya tunjuk dan tetapkan sendiri tanpa pemilihan. Sebagai ilustrasi di Semarang ada Ketua Yayasan dan Rektor suami istri bahkan menjabat hingga 30 tahun, tidak ada keributan. Di Jakarta juga ada yang seperti itu tapi tidak ada keributan,” kata Chandra.
Chandra bahkan menyebutkan lebih bagus lagi jika pengurus yayasan dan lembaga pendidikan yang dinaungi yayasan dikelola oleh orang-orang yang masih ada hubungan keluarga. Sebab hal itu menurutnya akan lebih bisa mengelola lembaga dengan pendekatan kekeluargaan. (tra)
BACA JUGA:  Warga Apresiasi Kodim 1623 Buka Akses Jalan Dua Dusun di Karangasem