Jaksa Agung: Kejar Koruptor yang Kabur dan Sembunyi di Luar Negeri

Jaksa Agung H. M. Prasetyo (nomor tiga dari kanan) saat memimpin Rakernas Kejaksaan RI di Sanur, Bali. (foto : ist)
Jaksa Agung H. M. Prasetyo (nomor tiga daqri kanan) saat mempin Rakernas Kejasaan RI di Sanur, Bali. (foto : ist)

Beritabalionline.com – Jaksa Agung, H. Muhammad Prasetyo memerintahkan jajarannya untuk mengejar para buronan kasus pidana korupsi di Indonesia yang kabur dan sembunyi di luar negeri.

“Saya sudah minta jajaran jaksa pidana khusus untuk menuntaskan para buronan kasus pidana korupsi. Saya ingatkan, tidak ada tempat yang aman untuk bersembunyi bagi koruptor karena kejaksaan akan kejar terus,” tegasnya di sela-sela Rapat Kinerja Nasional Kejaksaan RI Tahun 2018, di Sanur, Denpasar, Selasa (27/11/2018).

Dikatakannya, para tersangka dan terdakwa kasus pidana korupsi yang belum ditemukan karena melarikan diri itu, akan menjadi konsentrasi para jaksa untuk mencari jalan keluar penyelesaian masalah tersebut.

“Kami juga mengajukan permintaan persidangan secara in-absentia kepada pengadilan untuk berkas perkara yang dinilai sudah cukup bukti dan lengkap. Unsur-unsur yang terpenuhi, kita akan limpahkan ke pengadilan dengan permohonan untuk disidangkan secara in-absentia,” ujarnya.

Pengertian in-absentia adalah persidangan bisa jalan terus tanpa kehadiran terdakwa langsung, sehingga pihaknya juga telah membuat trik dan strategi tersendiri bagaimana cara membuktikan kasus ini.

“Sudah pernah terjadi, kita menangani sidang in-absentia ini untuk perkara Bambang Sutrisno dalam kasus Golden Trully yang disidangkan in-absentia, dimana hakim bisa menerima dan memutuskan tersangka bersalah,” kata Muhammad Prasetyo.

Oleh karenanya, dia berharap bisa segera dituntaskan karena hingga saat ini yang bersangkutan masih melarikan diri dan Kejaksaan memerlukan bantuan dari Polri dan Interpol dalam kasus ini. “Ini yang menjadi pertimbangan kami untuk persidangan in-absentia,” ungkap Jaksa Agung.

Terkait perkara Konsentrat TPPI, Bonggo Wendratmo yang ditangani penyidik Polri yang diketahui ada tiga tersangka, ia menyatakan perkara tersebut sudah dinyatakan P21, sehingga Kejaksaan tinggal menunggu penyerahan tersangka dan barang bukti dari pihak kepolisian.

BACA JUGA:  Terbukti Lakukan Percobaan Pemerkosaan, Mantan Driver Ojek Online Divonis 6 Tahun

“Saat ini hanya dua orang dan kita ingin ketiga tersangka itu diserahkan sekaligus oleh kepolisian agar tidak ada kesan disparitas perlakuan dari ketiganya. Karena yang melarikan diri itu diindikasikan paling menikmati hasil kejahatan korupsi kasus itu,” bebernya.

Jaksa Agung menegaskan bahwa tidak ada niatan Kejaksaan untuk menghambat kasus itu, karena adanya salah satu tahanan yang melarikan diri keluar negeri inilah, maka kejaksaan akan mempertimbangkan yang bersangkutan disidangkan secara in-absentia dengan tuntutan maksimal.

“Kami juga memiliki alat sadap yang tidak kalah hebat dari KPK, namun ada perbedaan dalam penggunaannya. Kalau KPK bisa menggunakan alat sadap kapan pun bisa, namun kejaksaan dibatasi masalah perizinan sehingga alat sadap kita ini bisa dilakukan setelah dilakukan tahap penyidikan,” katanya.

Dengan adanya alat sadap ini, nantinya bisa diprioritaskan untuk mencari dan menangkap baik narapidana yang belum berhasil ditemukan dan melarikan diri. Begitu juga dengan para tersangka yang belum dapat ditemukan.

Pada bagian lain Jaksa Agung juga mengatakan bahwa belum genap satu tahun pada 2018, Kejaksaan telah berhasil mengamankan 150 orang terpidana kasus korupsi dari berbagai kasus. (sdn)