Umat Hindu di Bali Rayakan Hari Tumpek Landep

Upacara pembersihan aneka pusaka leluhur seperti keris, tombak dan sebagainya pada hari Tumpek Landep. (foto : ist)

Beritabalionline.com – Sabtu (27/10/2018), umat Hindu di Paulau Dewata merayakan Hari Tumpek Landep, yakni upacara pembersihan dan persembahan suci khusus bagi semua jenis benda yang terbuat dari materi dasar besi, perak, tembaga, dan jenis logam lainnya.

Aktivitas ritual ini dilakukan di rumah tangga masing-masing dan juga perkantoran dengan skala besar dan kecil sesuai kemampuan dari keluarga bersangkutan sejak pagi hingga malam hari. Semua bermakna untuk memohon keselamatan ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa.

Tumpek Landep dirayakan setiap Saniscara Kliwon Wuku Landep. Tumpek Landep berasal dari kata Tumpek yang berarti Tampek atau dekat dan Landep yang berarti Tajam. Jadi dalam konteks filosofis, Tumpek Landep merupakan tonggak penajaman, citta, budhi dan manah (pikiran).

Dengan demikian umat selalu berperilaku berdasarkan kejernihan pikiran dengan landasan nilai – nilai agama. Dengan pikiran yang suci, umat mampu memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang buruk

Tumpek landep merupakan hari raya pemujaan kepada Sang Hyang Siwa Pasupati sebagai dewanya taksu. Jadi setelah mempertingati Hari Raya Saraswati sebagai perayaan turunya ilmu pengetahuan, maka setelah itu umat memohonkan agar ilmu pengetahuan tersebut bertuah atau memberi ketajaman pikiran dan hati.

Pada rerainan tumpek landep juga dilakukan upacara pembersihan dan penyucian aneka pusaka leluhur seperti keris, tombak dan sebagainya sehingga masyarakat awam sering menyebut Tumpek Landep sebagai otonan besi.

Namun seiring perkembangan jaman, makna tumpek landep menjadi bias dan semakin menyimpang dari makna sesungguhnya. Sekarang ini masyarakat justru memaknai tumpek landep lebih sebagai upacara untuk motor, mobil serta peralatan kerja dari besi.

BACA JUGA:  Peluncuran Buku Puisi Suara Hati Guru di Masa Pandemi Covid-19

Sesungguhnya ini sangat jauh menyimpang. Boleh saja pada rerainan Tumpek Landep melakukan upacara terhadap motor, mobil dan peralatan kerja namun jangan melupakan inti dari pelaksanaan Tumpek Landep itu sendiri yang lebih menitik beratkan agar umat selalu ingat untuk mengasah pikiran (manah), budhi dan citta.

Dengan manah, budhi dan citta yang tajam diharapkan umat dapat memerangi kebodohan, kegelapan dan kesengsaraan. Ritual Tumpek Landep sesungguhnya mengingatkan umat untuk selalu menajamkan manah sehingga mampu menekan perilaku buthakala (buruk) yang ada di dalam diri. (tra)