Keponakan Setnov Kembali Beberkan Anggota DPR Terima ‘Duit Panas’ E-KTP

Irvanto Hendra Pambudi. (foto : merdeka.com)

Beritabalionline.com – Terdakwa tindak pidana korupsi proyek e-KTP, Irvanto Hendra Pambudi Cahyo kembali merinci penerimaan uang panas e-KTP oleh anggota DPR. Hal itu ia sampaikan saat menjalani pemeriksaan terdakwa di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat.

Nama mantan Ketua Komisi II DPR, Agun Gunanjar dan Chairuman Harahap kembali disinggung Irvanto. Keduanya masing-masing disebut oleh keponakan Setya Novanto itu menerima USD 500 ribu. Pemberian uang kepada Agun dan Chairuman menurut Irvanto atas permintaan Novanto.

Kemudian, ia kembali diperintahkan Setya Novanto memberi uang ke Jafar Hafsah, Siti Assegaf, Ade Komaruddin, dan Aziz Syamsuddin dengan nominal bervariatif.

“Terus saya disuruh ambil uang lagi USD 100 ribu ke ruangannya Pak Nov disuruh bawa ke ruangannya Jafar Hafsah, terus ke ke Ibu Siti Assegaf (Nurhayati Ali Assegaf), terus Pak Aziz Syamsuddin USD 100 ribu,” ujar Irvanto, Selasa (23/10/2018).

Dua nama anggota DPR selanjutnya yang disebut Irvanto adalah Melcias Marcus Mekeng dan Markus Nari sebesar USD 1 juta.

“USD 1 juta untuk Mekeng dan Markus Nari kebetulan ada di ruangan Pak Nov. Saya yang kasih langsung yang mulia,” ungkapnya.

Pada bagian lain, Irvanto Hendra Pambudi Cahyo membantah melakukan transaksi sebesar USD 3,5 juta dengan money changer milik Rizwan Barala alias Iwan Barala.

Irvanto hanya mengaku melakukan transaksi berupa barter melalui money changer Iwan sebesar USD 3 juta. Jaksa Abdul Basir awalnya mengonfirmasi adanya transaksi tersebut yang dibenarkan oleh Irvan.

“Betul tapi seingat saya USD 3 juta pak bukan USD 3,5 juta,” ujarnya.

Irvanto tetap bergeming saat jaksa mengonfirmasi keterangan Iwan yang menyebutkan ada transaksi barter dengan dirinya senilai USD 3,5 juta. Keterangan Iwan diikuti dengan bukti invoice atau kwitansi barter.

BACA JUGA:  JPU Tolak Pledoi Ratna Sarumpaet

Tak hanya menampik bilangan transaksi dengan money changer, ia juga mengaku kurir pengantar uang hasil transaksi dengan money changer adalah anak buah Iwan, bukan Ahmad anak buah Irvanto. “Yang antar itu namanya Iwan, anak buahnya Pak Iwan Barala,” tandasnya.

Untuk diketahui, dari kasus ini sudah lima terpidana menjalani eksekusi di Lapas Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat, yakni Irman, Sugiharto, Andi Agustinus alias Andi Narogong, Setya Novanto, dan Anang Sugiana Sudiharjo. Dua terdakwa yang masih menjalani proses sidang adalah Irvanto Hendra Pambudi Cahyo, dan Made Oka Masagung.

Irvanto dan Made Oka didakwa turut serta dalam tindak pidana korupsi sebagai pihak penyalur uang hasil korupsi untuk Setya Novanto. *itn