Dibutuhkan 1.886 Tenda untuk Bangun Sekolah Darurat di Sulteng

Para pengungsi gempa dan tsnami di Palu, Sulawesi Tengah. (foto : AFP)

Merdeka.com – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) melakukan pengawasan di sekolah darurat di terdampak gempa dan tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah. Pengawasan dilakukan selama dua hari sejak 20-22 Oktober itu menemukan sejumlah persoalan.

Salah satunya terkait kebutuhan tenda untuk mendirikan sekolah darurat. Kebutuhan tenda kelas darurat sekolah di bawah Kemendikbud mencapai 1.560 tenda. Sementara yang tersedia hingga tanggal 22 Oktober baru 246 tenda.

Sedangkan sekolah-sekolah di bawah kewenangan Kemenag mulai dari tingkat RA, MI, MTS dan MA mencapai 326 sekolah dengan kerusakan sekolah mencapai 446 kelas. Hal ini diketahui hasil rapat koordinasi dengan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Tengah, Kadisdik kota Palu, Kadisdik kabupaten Donggala, Kadisdik kabupaten Sigi, KPPPA KERLIP, dan Unicef diikuti KPAI, Sabtu (20/10).

“Hingga Minggu (21/10/2018) masih kekurangan tenda sebanyak 308 tenda kelas darurat. Namun, tenda-tenda yang sudah komitmen diperoleh oleh madrasah-madrasah terdampak tersebut hingga hari pengawasan belum satupun diterima madrasah,” kata Komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Retno Listyarti, dalam keterangan tertulisnya, Senin (22/10/2018), dilansir merdeka.com.

Agenda rapat koordinasi membahas tentang distribusi 246 tenda kelas darurat dan 80 persen tenda sudah berdiri dengan bantuan relawan. Pihak sekolah juga sempat dilatih mendirikan tenda kelas darurat di posko pendidikan.

Pelatihan bertujuan untuk mempersiapkan pihak sekolah nantinya dapat memasang dan membongkar tenda sesuai situasi dan kondisi.

Retno mengatakan, baru ada lima tenda kelas darurat diperoleh madrasah. Tenda itu pun merupakan bagian jatah sumbangan diterima Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Selain itu, KPAI memperoleh informasi bahwa pembelajaran di sekolah dan madrasah di Palu, Donggala, dan Parimo belum berjalan normal karena masih banyak siswa yang belum masuk sekolah. Misalnya SMKN 1 Sigi yang mengalami kerusakan mencapai 95 persen.

BACA JUGA:  Polisi Bekuk Pembunuh 2 Orang yang Mayatnya Dibakar Dalam Mobil, Otak Pelaku Istri Korban

“Jumlah siswa yang sudah masuk sekolah 161 dari total 860 siswa.”

Sampai hari ini sekolah belum bisa mendata siswa yang selamat atau tidak. Seperti salah satu SLB Negeri di Palu yang memiliki 100 siswa berkebutuhan khusus. Sampai Minggu (21/10), baru bisa memastikan lima siswanya selamat. Sekolah-sekolah yang mengalami kerusakan ringan dan sedang akibat gempa dan tsunami telah memulai pembelajaran dengan Psiko sosial.

KPAI minggu (21/10) sudah pengawasan ke Petobo dan lokasi pengungsian di Masjid Raya Darussalam, Palu. KPAI didampingi Kepala Dinas PPPA Donggala dan Ketua Umum KERLIP juga melakukan pengawasan ke sejumlah sekolah darurat dan satu lokasi pengungsian di kabupaten Donggala. (itn)