Pergub Bali Tentang Penggunaan Aksara, Busana dan Bahasa Bali Direspons Positif Masyarakat

Gubernur Koster saat meresmikan penggunaan aksara Bali di Bandara I Gusti Ngurah Rai beberapa waktu lalu. (foto : ist)
Beritabalionline.com – Peraturan Gubernur (Pergub) Bali nomor 79 tahun 2018 tentang penggunaan busana adat Bali dan Pergub Bali nomor 80 tahun 2018 tentang Perlindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara dan Sastra Bali sudah berjalan/diberlakukan lebih dari sepekan.
Beragam respons dari warga masyarakat pun muncul. Meski tidak bisa dijadikan acuan secara keseluruhan, dari hasil jajak pendapat (poling) yang dilakukan oleh tiga media online lokal, 11-19 Oktober 2018, umumnya responden mendukung dan mengapresiasi positif pelaksanaan Pergub Bali tersebut.
Responden rata-rata juga mengaku setuju dan menyatakan bahwa seni, adat, budaya Bali seperti busana adat Bali dan bahasa serta aksara Bali perlu dilestarikan.
Sementara, Gubernur Bali I Wayan Koster menyatakan bahwa keluarnya peraturan gubernur didasarkan atas realitas kian melunturnya penggunaan bahasa, aksara dan sastra Bali di kalangan masyarakat dewasa ini.
“Adanya penggerusan budaya Bali itu karena pengaruh modernisasi, teknologi dan globalisasi. Sehingga kelompok melinial ini cenderung meninggalkan budaya leluhur orang Bali, khususnya terhadap bahasa, aksara, dan sastra Bali,” ucap Gubernur Koster dalam siaran pers yang diterima Beritabalionline.com, di Denpasar, Minggu (21/10/2018).
Menurut Gubernur Wayan Koster, pihaknya memandang perlu untuk membangkitkan kembali gairah penggunaan busana, bahasa, aksara dan sastra Bali.
Hal ini sesuai dengan visi dan misinya, yakni Nangun Sat Kerthi Loka Bali tentang membangun Bali melalui pola pembangunan semesta berencana menjaga kesucian dan keharmonisan Bali beserta isinya dan mewujudkan kehidupan krama Bali dan gumi Bali yang sejahtera skala dan niskala sesuai prinsip Tri Sakti Bung Karno, demikian Koster yang juga Ketua DPD PDIP Bali. (agw)
BACA JUGA:  Rombongan Menteri Kunjungi Gianyar