Ibunda Bupati Tabanan Tutup Usia

Almarhum Ni Ketut Suprapti (kiri) bersama putrinya, Bupati Tabanan Putu Eka Wiryastuti.(foto:ist)

Beritabalionline.com – Bupati Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti berduka menyusul meninggalnya sang ibunda, Ni Ketut Suprapti, 66, Rabu (26/9/2018) petang.

Almarhum Ketut Suprapti yang notabene merupakan istri pertama dari Ketua DPRD Bali Nyoman Adi Wiryatama menghembuskan napas terakhir dalam perawatan di Ruang ICU RSUP Sanglah, Denpasar akibat penyakit komplikasi stroke dan gagal paru-paru.

Jenazah almarhum Ketut Suprapti sudah dibawa pulang ke rumah duka di Banjar Tegeh, Desa Angseri, Kecamatan Baturiti, Tabanan, Rabu tengah malam pukul 24.00 Wita. Hingga Kamis (27/9/2018) jenazahnya masih disemayamkan di rumah duka. Rencananya, jenazah ibunda Bupati Eka Wiyastuti akan diabenkan di Setra Desa Pakramnan Tegeh, Desa Angseri pada Soma Wage Dukut, Senin (1/10/2018) depan.

Sedangkan ritual ngeringkes akan dilaksanakan pada Sukra Umanis Ke-lawu, Jumat (28/9/2018) ini. Almarhum Ketut Suprapti berpulang buat selamanya dengan meninggalkan suami tercinta Nyoman Adi Wiryatama, dua anak yakni Ni Putu Eka Wiryastuti dan Gede Dedy Supratama, serta dua cucu.

Sebelum menghembuskan napas terakhir, Rabu petang pukul 18.00 Wita, perempuan berdarah campuran Bali-Solo kelahiran 23 Maret 1952 ini sempat selama 10 hari dirawat di ICU RSUP Sanglah. Sang suami, Nyoman Adi Wiryatama, mengatakan sebelum dilarikan ke rumah sakit, kondisi almarhum mendadak drop di rumahnya kawasan Suwung, Kecamatan Denpasar Selatan.

Keluarga kemudian memutuskan membawa almarhum ke RS Bali Mandara, Sanur, Kamis (13/9). Perempuan yang dikenal sebagai desainer rambut tersebut selama epmat hari dirawat di RS Bali Mandara. Namun, karena kondisinya semakin parah, almarhum kemudian dirujuk ke RS Sanglah, Senin (17/9). “Selama dirawat di ICU RS Sanglah, almarhum dalam kondisi koma,” ujar Adi Wiryatama di rumah duka, Kamis siang.

BACA JUGA:  KPU Resmi Tutup Tahapan Perbaikan Daftar Calon

Menurut Adi Wiryatama, tim dokter dan pihak rumah sakit sudah berusaha maksimal menangani almarhum. Namun, karena paru-paru sebelah tidak berfungsi, akhirnya mengalami tensi tinggi. Obat-obatan sudah tidak bisa membantu, sampai akhirnya almarhum menghembuskan napas terakhir, Rabu petang sekitar pukul 18.00 Wita.

Menurut Adi Wiryatama, almarhum Ketut Suprapti memiliki riwayat stroke sejak 9 bulan lalu. Semua berawal karena jatuh di kamar mandi saat masih SMP hingga mengganggu syaraf. Sejak menikah tahun 1975, istrinya ini sering bolak balik ke rumah sakit karena gangguan syaraf.

Disebutkan, almarhum Ketut Suprapti—yang dulu bernama Raden Roro Suprapti—awalnya tinggal di rumahnya kawasan Jalan Alor Denpasar Selatan. Sejak sakit, kata Adi Wiryatama, istrinya ini diajak tinggal di rumahnya kawasan Suwung, Denpasar Selatan.

Menurut Adi Wiryatama, istri pertamanya ini adalah tipe perempuan pekerja keras, rajin sembahyang, serta sangat perhatian terhadap anak dan suami. Hanya saja, desainer rambut yang semasa muda sempat menjadi direktur salon ternama di Denpasar tersebut memiliki sifat ‘tidak mau mengalah’. “Makanya, dari dulu saya selalu mengalah dengannya, di samping karena sudah tahu almarhum mempunyai riwa-yat syaraf,” beber politisi senior PDIP yang mantan Bupati Tabanan dua periode (2000-2005, 2005-2010) ini.

Sementara itu, Bupati Eka Wiryastuti terlihat tegar ditinggal bunda tercinta buat selamanya. Menurut Eka Wiryastuti, dirinya sudah ada firasat di balik meninggalkan sang ibu. Pasalnya, tiga hari sebelum meninggal, wajah dan seluruh badan almarhum terlihat bengkak saat proses cuci darah. “Dari situ sudah ada firasat. Ini sudah takdir Tuhan, mudah-mudahan ibu menyatu dengan Tuhan dan upacara berjalan lancar,” terang Eka Wiryastuti di rumah duka, Kamis kemarin.

Sebagai anak perempuan, Eka Wiryastuti mengaku sangat merasakan didikan almarhum ibunya. Salah satu yang ditekankan almarhum adalah sebelum berumah tangga, perempuan harus pintar memasak. Sebab, kalau sudah pintar memasak, keluarga akan suka masakan rumah dan di sinilah obat kumpul serta menjaga kerukunan keluarga. “Selain itu, kebersihan rumah juga sangat dijaga. Ibu tidak suka kotor dan berantakan. Karena kalau kotor, pikiran akan ikut kotor,” kenang Bupati Tabanan dua periode (2010-2015, 2016-2021) ini.

BACA JUGA:  Fenomena Tari Rejang Renteng akan Dibahas dalam Workshop

Bukan hanya itu. Menurut Eka Wiryastuti, almarhum ibunya juga selalu menjalankan falsafah Jawa ‘pelan tapi pasti’. “Dan, pesan almarhum yang tidak bisa saya lupakan adalah saran agar saya selalu sehat dan kuat, jaga adik dan sayangi bapak,” ujar Bupati Wanita Pertama di Bali ini. (arz/nsb)