Nelayan Jembrana Panen Ikan

para nelayan saat panen ikan.(foto: ist)

Beritabalionline.com – Setelah sebelumnya mengalami paceklik panjang, akhirnya  nelayan di Kabupaten Jembrana  mulai merasakan panen ikan yang cukup melimpah di laut.

“Bulan ini saya mendapatkan uang dari bagian penjualan ikan cukup banyak. Semoga hasil tangkap terus seperti ini,” kata Eman, salah seorang nelayan di Desa Pengambengan, Kecamatan Negara yang merupakan sentra perikanan tangkap terbesar di Kabupaten Jembrana, Selasa (25/9/2018).

Ia mengatakan, selama bekerja saat gelap bulan atau sekitar 20 hari, dia mendapatkan bagian Rp4 juta lebih, belum termasuk uang harian yang diterima.

Mendapatkan pembagian uang hasil penjualan ikan dengan nilai yang cukup besar juga dirasakan Samsuri, nelayan lainnya, yang mengaku mendapatkan uang Rp2 juta lebih.

“Sehari-hari saya juga mendapatkan uang, istilah kami gacokan atau uang harian. Uang yang didapat setiap hari itu bisa menopang kebutuhan rumah tangga, sehingga uang yang dibagi setiap bulan merupakan hasil bersih,” katanya.

Dengan hasil tangkap yang melimpah, para nelayan ini mengaku, bisa membayar hutang-hutang yang menumpuk karena paceklik panjang yang berlangsung hampir tiga tahun.

Saat laut memberikan hasil tangkap yang melimpah, pemilik perahu juga membuka lowongan untuk awak perahu baru sehingga sektor ini cukup banyak menyerap tenaga kerja.

Aditya, salah seorang awak perahu yang baru mulai bekerja satu bulan mengatakan, dirinya mendapatkan bagian yang sama dengan awak perahu sebelum dirinya.

“Saya memutuskan menjadi awak perahu karena sulit mendapatkan pekerjaan lainnya. Ternyata hasilnya lumayan, belum lagi dapat uang setiap hari selain pembagian setiap bulan,” katanya.

Meningkatnya hasil tangkap di laut, mulai dirasakan nelayan di Kabupaten Jembrana sejak dua bulan lalu, yang terus meningkat pada bulan ini.

BACA JUGA:  Jumlah Penumpang di Bandara Ngurah Rai Naik 8 Persen

Nelayan yang berlabuh di Pelabuhan Perikanan Nusantara Pengambengan ini, rata-rata melaut menggunakan sepasang perahu tradisional selerek yang berjalan beriringan, dengan fungsi satu perahu membawa jaring dan perahu lainnya untuk menampung hasil tangkap.

Saat ini ikan yang diperoleh nelayan Jembrana jenis tongkol dan layang, sedangkan ikan lemuru yang merupakan ikan endemi di perairan Bali belum tampak di permukaan.

“Biasanya kalau musim tongkol disusul dengan musim ikan lemuru, bisa menjadi tanda keberadaan ikan akan lama di perairan Bali, yang berarti hasil tangkap kami akan bertambah banyak dalam jangka waktu yang lama,” kata Samsuri.

Setiap melaut, sejumlah nelayan mengatakan, bisa mendapatkan hasil tangkap beberapa ton ikan, yang sudah cukup lama tidak mereka rasakan.

Meningkatnya hasil tangkap nelayan juga membuat suasana di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pengambengan ramai, dengan ribuan orang yang bekerja di sektor perikanan tangkap mulai dari nelayan, buruh angkut ikan, pedagang ikan dan lain-lain.

Nelayan Kabupaten Jembrana melaut saat gelap bulan yang berlangsung sekitar 20 hari, sedangkan saat terang bulan mereka beristirahat sambil memperbaiki jaring.

Perahu selerek yang mereka gunakan melaut mampu menampung puluhan ton ikan, dengan jumlah awak perahu antara 35 orang sampai 40 orang.(arz)