Curahan Hati Dua Kader Demokrat dari Lapas Sukamiskin, GPS Tak Ingin Korbankan Persahabatan Demi Politik

Jero Wacik, Putu Sudiartana alias Tu Leong, dan Gede Pasek Suardika (GPS).

Beritabalionline.com – Belakangan ini, jelang pemilihan presiden (Pilpres) dan Pemilu Legislatif 2019, banyak politisi terlibat pertengkaran di sosial media, seperti debat di Facebook, gontok-gontokan di Twitter dan saling nyinyir di Instagram. Apa yang tadinya bermula sebagai perdebatan ideologis berakhir pada pahitnya permusuhan.

Di sosial media kerap dijumapi para politisi saling memprovokasi satu sama lain, menuntut orang-orang yang sehaluan dan berseberangan untuk meninggalkan lingkaran pertemanan mereka, memutus tali silaturahmi, hanya karena perbedaan preferensi politik.

Sungguh amat disayangkan menukar persahabatan demi politik. Orang-orang yang mengorbankan persahabatan demi pilihan politik seakan sedang mengambil kendali penuh atas hidup mereka. Mereka tidak menyadari bahwa sesungguhnya mereka justru sedang membiarkan orang lain untuk melakukannya.

Namun tidak demikian dengan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Bali, Gede Pasek Suardika (GPS). Mantan kader Partai Demokrat dari Bali ini berprinsip bahwa relasi persahabatan dan kekeluargaan terlalu berharga untuk dibuang begitu saja demi alasan dan perbedaan pandangan politik.

Hal itu itu disampaikan GPS dalam Akun Facebook-nya pada Sabtu (15/9/2018) lalu, saat ia menemui dua rekannya dari kader Partai Demokrat, Jero Wacik (JW) dan Putu Sudiartana alias Tu Leong yang kini mendekam di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat, karena terjerat kasus korupsi.

“Walaupun berbeda partai, tadi saya menyempatkan bertemu beliau berdua di Lapas. Saya senang melihat kondisi fisiknya yang sehat walau beliau berdua harus menjalani hidup yang tidak semestinya. Sayang saya tidak sempat berfoto bersama mereka karena sekarang sangat ketat mekanisme dan waktu besuk. Semua tas, HP dan lain-lain harus dititipkan di loker,” kata GPS.

BACA JUGA:  Wasekjen Demokrat Berang, Sebut Prabowo Jenderal Kardus

JW saat ini sedang proses PK (Peninjauan Kembali) tahap akhir. “Saya senang dengan Pasek, dia bisa diajak diskusi soal hukum yang saya hadapi. Enaknya lagi gratis, ha ha haa..,“ kata JW dengan tawanya yang khas, seperti dituturkan GPS.

Menurut GPS, walaupun mereka berbeda pandangan politik dalam banyak hal, tetapi dirinya tetap menjaga hubungan pribadi. “Bahkan, ketika JW di sidang saya beberapakali datang ikut menyaksikan dan memberikan dukungan moral,” imbuh GPS.

Sesaat setelah ngobrol dengan JW, kemudian Putu Leong datang menghampiri GPS. “Dan saya pun memeluknya serta menanyakan kondisinya. Putu Leong tampak sehat dan ia terlihat cukup disegani oleh para penghuni dan petugas Lapas. Beberapakali Putu Leong tampak berdialog dengan petugas dan tahanan tentang berbagai urusan,” jelas GPS yang kini menjabat Wakil Ketua Umum Partai Hanura.

“Kami pun sempat bercanda untuk menghiburnya. Tidak hanya itu, dia pun mendukung saya untuk tetap berkiprah ke Senayan, bahkan ia memberikan beberapa saran,” ujar GPS.

Tidak mau kalah dengan Putu Leong, JW pun mengatakan, “Sek, doakan ya saya bisa keluar lewat PK sebelum pemilihan. Saya akan kampanye deh untuk kamu,” kata JW seperti ditirukan GPS.

Mendengar curahan hati (curhat) JW dan Putu Leong itu, GPS pun menjawab, “Semua saya doakan agar bisa segera selesai hadapi masalah (kasus hukum, red)”.

Memang, demikian GPS, kasus korupsi telah melempar dan mempurukkan citra politisi Bali di Senayan pada periode sekarang. Sebab periode sebelumnya, walau ada yang dicekal, tetapi ada juga yang berhasil memimpin Komisi di DPR.

Terlepas dari masalah politik dan hukum, sebagai sesama putra daerah (Bali, red), GPS mengatakan tetap mencoba hadir menghibur kedua sahabatnya itu. Bahkan juga mendoakan semoga apa yang mereka alami segera bisa selesai. Selain JW yang sudah PK, tampaknya Putu Leong juga akan melakukan hal yang sama.

BACA JUGA:  Jelang Akhir Jabatannya, Kapolresta Denpasar Gelar Silaturahmi dengan Awak Media

“Semoga saja semua bisa dimudahkan. Hidup manusia memang antara berkah dan anugerah juga aka nada masalah, cobaan dan lainnya. Yang pasti, semua itu harus dihadapi. Itulah kehidupan,” tutup GPS.

Apa yang disampaikan GPS terhadap dua rekannya itu, patut menjadi contoh dan pembelajaran bagi politisi yang lain, jangan sampai perbedaan pilihan politik membuat perilaku seseorang menjadi tidak rasional dan memutus tali silaturahmi.

Sebab, untuk membangun relasi pertemanan, seseorang perlu mendengarkan pandangan dan opini yang berbeda-beda. Artinya, setiap orang memerlukan wawasan baru dari orang lain. Bahkan jika tidak mau menerima perbedaan orang lain secara total, ia bisa belajar banyak hanya dari mendengarkan apa yang dikatakan oleh orang lain. Dan, relasi pertemanan semacam itu akan membantu seseorang menjadi pribadi yang lebih terbuka dan rendah hati.

Inilah yang seharusnya disadari oleh setiap politisi. Bahwa masing-masing dari mereka itu  adalah individu yang memiliki perasaan, harapan, cita-cita, dan impian mengenai hidup yang sejahtera. Oleh karena itu, jangan sampai politik mengubah segalanya, termasuk memutus tali silaturahmi.

Jika seseorang ingin hidup di sebuah dunia yang saling memahami satu sama lain dan saling menjaga perdamaian, salah satu caranya adalah dengan menjalani hidup ini seolah-olah perdamaian itu sudah tercapai saat ini.

Itu artinya, jangan biarkan politik menghalang-halangi indahnya persahabatan dan persaudaraan antar manusia. (SAS)