Terkait Dampak Proyek Perluasan Bandara Ngurah Rai, Pihak Manajemen Janji Berikan Kompensasi

Arie Ahsanurrohim (foto : agw)

Beritabalionline.com – Proyek pembangunan perluasan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai kini hampir rampung. Perluasan ini diharapkan dapat mendukung kelancaran pertemuan tahunan International Monetary Fund (IMF) – World Bank yang akan dilasanakan pada 8-14 Oktober mendatang di Nusa Dua.

Perluasan tersebut meliputi tiga paket paket pembangunan, yaitu perluasan parkir pesawat (apron) sisi barat dan sisi timur, serta gedung VVIP, Kepala Hubungan Masyarakat Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Arie Ahsanurrohim saat ditemui, Selasa (18/9/2018)

Pihak Pengelola Bandara Ngurah Rai menargetkan proyek apron siap menjalani verifikasi terakhir dari Kementerian Perhubungan pada akhir September 2018.

Dengan demikian, kata Arie, apron tersebut bisa digunakan sebelum pertemuan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia, Oktober 2018.

Salah satu proyek pengembangan Bandara Ngurah Rai yang sedang dikerjakan. (foto : agw)

“Kami optimistis karena proyek sudah mendekati selesai,” katanya saat meninjau pengerjaan proyek apron di bandara setempat di kawasan Tuban, Kabupaten Badung.

Dia mencatat, hingga 15 September 2018, pengerjaan apron di sisi barat seluas 8 hektare dengan cara mereklamasi lahan perairan, sudah mencapai 99,1 persen.

Proyek apron yang masuk paket I itu akan digunakan untuk mengakomodasi jangka pendek yakni mengantisipasi tingginya lalu lintas pesawat ketika perhelatan akbar pertemuan IMF dan Bank Dunia berlangsung.

Proyek pengerjaan apron atau tempat parkir pesawat di sebelah barat bandara yang dikerjakan kontraktor BUMN PT Pembangunan Perumahan (PP) itu merupakan bagian dari pengembangan apron yang dibangun di atas lahan seluas 35,75 hektare.

Pihaknya memperkirakan apron barat seluas 8 hektare dan apron timur dapat menampung total 10 pesawat berbadan sedang, termasuk pesawat berbadan besar. Sedangkan untuk paket III yakni pengerjaan gedung VVIP, Base Ops Pangkalan Udara Ngurah Rai dan perlengkapan untuk maskapai penerbangan, pembangunannya sudah mencapai 96 persen.

BACA JUGA:  Bertemu Awak Media, Ini Kata Kapenrem 163/Wira Satya

Sebelumnya, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan telah melakukan verifikasi tahap awal sebagai bagian asistensi khususnya untuk proyek apron barat dan timur.

Menanggapi protes reklamasi pantai terkait perluasan parker pesawat dari warga sekitarnya khususnya para nelayan, Arie menjelaskan bahwa pada bulan April lalu pihak manajemen Bandara Ngurah Rai telah bersurat ke Bendesa Adat Kuta untuk menyampaikan beberapa hal terkait pengembangan bandara.

“Pada saat itu Bendesa Adat Kuta menyampaikan agar kami melakukan komunikasi dengan Bendesa Adat Kuta yang baru karena saat itu masih dalam masa transisi. Komunikasi terakhir baik dengan pak Lurah Kuta maupun dengan Bendesa Adat Kuta, mereka menyambut baik rencana pertemuan yang akan kami lakukan dengan masyarakat Kuta. Target kami paling lambat dua minggu dari sekarang akan ada pertemuan,” ujarnya.

Ditambahkan Arie, keluhan serta kekhawatiran dampak reklamasi pantai datang dari masyarakat nelayan dan para peselancar. Namun pihaknya menegaskan bahwa proyek pengembangan bandara juga tetap memperhatikan dampak yang akan ditimbulkan.

“Kami memberikan jaminan kepada warga sekitarnya termasuk para nelayan bahwa salah satu syarat reklamasi adalah untuk memberikan penghidupan layak kepada masyarakat secara berkelanjutan. Itu yang kami jaminkan kepada masyarakat. Apabila nanti ada hal-hal berupa konpensasi, bantuan, atau mengenai apa yang masyarakat ingin terima akibat terkena dampak langsung, tentunya kami siap,” demikian Arie. (agw)