821 Juta Penduduk Dunia Alami Kelaparan, 150 Juta Anak Bertubuh Kerdil

Kelaparan di wilayah konflik (foto : Rimanews.com)

Beritabalionline.com – Bukti baru terus memperlihatkan bahwa jumlah orang yang kelaparan di dunia bertambah, sehingga mencapai 821 juta pada 2017 atau satu dari sembilan orang, kata laporan 2018 Lembaga Keamanan Pangan dan Gizi di Dunia.

Seperti dilansir Antara, laporan yang disiarkan pada Selasa (11/9/2018) tersebut menyatakan kemajuan terbatas juga dicapai dalam penanganan bermacam bentuk gizi buruk, mulai dari anak yang bertubuh kerdil sampai orang dewasa yang kegemukan, kondisi yang membuat ratusan juta orang terancam.

Kelaparan telah naik selama tiga tahun belakangan ini, sehingga mengubah kemajuan yang dicapai sejak satu dasawarsa lalu, demikian laporan UNA-OIC –yang dipantau Antara di Jakarta, Jumat pagi. Perubahan dalam kemajuan itu mengirim peringatan jelas bahwa masih banyak yang harus dan mendesak dilakukan “jika kita mau mencapai Sasaran Pembangunan Global mengenai Nol Kelaparan” sampai 2030.

Di dalam laporan bersama yang diajukan di dalam laporan tersebut, Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), Dana Pembangunan Internasional PBB (IFAD), Dana Anak PBB (UNICEF), Program Pangan Dunia (WFP) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa “tanda yang mengkhawatirkan mengenai peningkatan kondisi rawan pangan dan tingginya tingkat bermacam bentuk gizi buruk adalah peringatan jelas bahwa ada setumpuk pekerjaan yang harus dilakukan untuk memastikan kita tidak meninggalkan seorang pun di jalan menuju tercapainya sasaran SDG mengenai keamanan pangan dan peningkatan gizi”.

Kemajuan buruk telah dibuat dalam mengurangi anak yang perkembangan tubuh mereka terhambat, kata laporan tersebut. Sementara itu, hampir 151 juta anak yang berusia di bawah lima tahun terlalu pendek untuk usia mereka akibat gizi buruk pada 2017, dibandingkan dengan 165 juta pada 2012. Secara global, di Afrika dan Asia ,masing-msaing, terdapat 39 persen dan 55 persen dari semua anak yang bertubuh pendek.

BACA JUGA:  Usai Prabowo-SBY Bertemu, Demokrat dan Gerindra Sepakat Berkoalisi

Laporan tahunan PBB itu mendapati bahwa keragaman iklim yang mempengaruhi pola curah hujan dan musim pertanian, serta cuaca ekstrem seperti kemarau dan banjir, termasuk di antara pengendali utama di balik peningkatan kelaparan, bersama dengan konflik dan kelambanan ekonomi.