Pemkab Launching Dewi Nawa Satya

Bupati IGA Mas Sumatri di tengah pembukaan Festival Subak Karangasem II yang juga dirangkaikan dengan launching Dewi Nawa Satya Karangasem The Spirit of Bali.(foto:ist)

Di Ajang Festival Subak Karangasem II

Beritabalionline.com  – Parade budaya bertema pertanian meriahkan pembukaan Festival Subak Karangasem II tahun 2018. Kegiatan ini juga  dirangkaikan launching ‘Dewi’ (Dewa Wisata) Nawa Satya Karangasem The Spirit of Bali, di Subak Desa, Banjar Kaler, Desa Bugbug, Kecamatan Karangasem, baru-baru ini.

Festival Subak kali ini mengusung tema “Tri Hita Karana” Harmoni Jagat Semesta, bertujuan mengedukasi petani agar lebih optimal berproduksi dengan memperkenalkan beragam teknologi pertanian. Festival yang dibuka Bupati Karangasem, I Gusti Ayu Mas Sumatri ditandai dengan pemukulan kulkul.

Dalam upaya menguatkan komitmen pemerintah menyejahterakan petani, Bupati Mas Sumatri menandatangani pakta integritas Piagam Komitmen Dewi Nawa Satya Karangasem The Spirit of Bali bersama 14 OPD yang hadir. Penandatanganan pakta integritas ini sebagai bentuk keseriusan mendukung  kemajuan petani, sehingga pertanian nantinya sebagai pendukung kegiatan wisata agro akan saling bersinergi.

Bupati Mas Sumatri mengatakan inovasi Dewi Nawa Satya Karangasem The Spirit of Bali dimaksudkan sebagai sebuah akselerasi atau percepatan dengan mengintegrasikan program dan kegiatan yang ada pada 14 OPD ke dalam Desa Wisata Nawa Satya.

Dewi Nawa Satya Karangasem The Spirit of Bali juga dimaknai sebagai pengembangan destinasi baru yang memiliki ciri khusus yaitu desa wisata yang berbasis desa adat dengan 9 komitmen, yaitu “Sapta Pesona ditambah spiritual dan berkelanjutan”.

Sementara itu Ketua Panitia Sekda Karangasem, I Gede Adnya Muliadi mengatakan, tema Tri Hita Karana yang diangkat bertujuan agar seluruh aspek tersentuh. “Kami tidak hanya melihat subak dari aspek budaya saja, tetapi juga subak dari aspek penerapan teknologi pertaniannya. Karena fakta yang ada, penerapan teknologi pertanian belum optimal dan generasi muda tidak begitu tertarik dengan dunia pertanian yang identik dengan kemiskinan,” katanya.

Festival yang berlangsung selama tiga hari dari tanggal 1 September dan ditutup pada  3 September diisi berbagai kegiatan seperti gelar teknologi pertanian, parade budaya pertanian, bursa hasil pertanian, farm trips, demo alat mesin pertanian, seminar, temu usaha, gathering pariwisata pertanian dan juga lomba-lomba, diantaranya Lomba Membuat Gebogan, Lomba Membuat Lelakut, Lomba Menangkap Belut, Lomba Mengukir Buah, Lomba Merangkai Bunga, Lomba Karya Tulis dengan tema “Bangga Jadi Petani”.

Peserta festival terdiri dari unsur perwakilan subak, subak abian, dan kelompok tani se-Kabupaten Karangasem, KTNA, KWT, pelaku usaha, produsen sarana produksi pertanian, komunitas photografi Karangasem.

Pembukaan festival dihadiri Kepala Balai Besar Pendidikan dan Latihan Penyuluhan Pertanian Malang Kreno, Direktur Perlindungan Tanaman dan Hortikultura Kementerian Pertanian Sri Wijayanti Yusuf, Komjen Tiongkok Gou Haodong, Wakil Bupati I Wayan Artha Dipa, anggota DPR RI AA Bagus Adhi Mahendra Putra, anggota DPRD Bali Ni Komang Yuli Artini, dan undangan lainnya. (jab)