Penjual Batu Akik di Pasar Kereneng Menjerit, Dulu Booming Sekarang Dijual Murah pun Tak Laku

Pedagang cincin batu akik yang belakangan  kurang peminatnya dan lesu pembeli.

Beritabalionlinecom – Para penjual batu akik yang ada di seputaran Pasar Kreneng, Denpasar, kini menjerit. Batu mulia yang dulu sempat ‘booming’ tersebut kini tak laku walau dijual murah.

Yono, salah seorang penjual aksesoris batu akik yang ditemui di Pasar Kereneng, Kamis (30/8/2018), menuturkan, masa-masa booming batu akik sepertinya sudah selesai, karena itu diobral pun saat ini susah dibeli masyarakat.

“Walaupun penggemar batu akik sudah sepi, tetapi saya tetap jualan karena tidak ada pekerjaan lain. Saya berjualan dari pagi pukul 09.00 sampai sore hari,” aku pria asal Jember, Jawa Timur ini.

Menurut Yono, batu akik yang dijualnya bukanlah bahan mentah, namun telah dijadikan aksesoris seperti batu cincin, gelang dan liontin untuk kalung, harga jualnya bervariasi tergantung ukuran dan jenis batunya.

“Harga yang dijual juga sesuai dengan jenis dan kualitas pencahayaan batu serta ukuran, seperti bahan batu Giok Aceh misalnya, saya jual seharga Rp150 ribu per biji hingga termahal Rp300 ribu per biji, sedangkan batu Solar Aceh Rp125 ribu per biji hingga termahal Rp 250 ribu per biji.

Kemudian batu Indocrase Aceh seharga Rp150 ribu sampai Rp300 ribu per biji, Batu Madu mulai Rp100 ribu sampai Rp200 ribu. Blackjade Rp125 ribu sampai Rp250 ribu, Kecubung Rp175 ribu sampai Rp275 ribu per bijinya.

Dalam sebulan, Yono mengaku hanya mampu menjual sebanyak 15 batu akik koleksinya, sehingga tidak dapat dipastikan berapa omzet yang dapat diperoleh dari hasil penjualan sebab pembeli tidak menentu.

“Para pembeli saat ini pun bukanlah berasal dari lokal, melainkan ada juga dari luar Bali yang kebetulan berkunjung atau berlibur di daerah ini,” ucapnya.

BACA JUGA:  Gubernur Koster Apresiasi Program Kartu Sm@rt247 Desa Duda Timur Selat, Karangasem

Yono juga mengaku bahwa dalam era digital saat ini dirinya tidak memakai fasilitas internet dalam berjualan batu akik, karena ia tidak menguasai bagaimana proses berdagang secara online. “ Saya jualan seperti ini saja,” ujarnya, sembari menunjuk batu akik yang dijualnya di atas meja. (tra)