Lengkapi Berkas, Calon Anggota DPD RI Kembali Digiring ke Mapolresta

Bakal calon anggota DPD RI, I Ketut Putra Ismaya Jaya. (foto : ist)

BBO.COM – Bakal calon anggota DPD RI, I Ketut Putra Ismaya Jaya kembali digiring ke Mapolresta Denpasar. Sekjen salah satu Ormas di Bali ini dijemput oleh petugas gabungan Satreskrim Polresta Denpasar dengan Brimobda Polda Bali.

“Saya ini juga kaget, kok tiba-tiba dijemput oleh petugas,” ucap Kuasa Hukum Ismaya, Togar Situmoran saat dihubungi, Kamis (23/8/2018). Togar menerangkan, Ketut Ismaya kembali dibawa petugas ke Mapolresta Denpasar, Rabu (22/8/2018) sekitar pukul 02:00 Wita dini hari.

Polisi beralasan penjemputan Ismaya dilakukan untuk melengkapi berkas pemeriksaan Ismaya sebagai tersangka. “Rabu malam pihak penyidik ada gelar rekontruksi di Kantor Satpol PP Provinsi Bali. Saat ini saya hanya fokus siapkan permohonan penangguhan penahanan,” beberanya.

Sebelumnya, Ketut Ismaya ditetapkan menjadi tersangka oleh Polresta Denpasar dan dijerat beberapa pasal oleh penyidik Satreskrim Polresta Denpasar. Oleh polisi Ismaya dianggap melanggar hukum, yakni melawan pejabat pemerintah yang sedang menjalankan tugas negara dan atau penganiayaan dan atau kejahatan terhadap kemerdekaan, sesuai Pasal 211, Pasal 212, Pasal 214 KUHP dan atau Pasal 351 KUHP dan atau Pasal 335 KUHP.

Usai ditetapkan sebagai tersangka, kuasa hukum Ismaya menyatakan bahwa tidak ada perlawanan atau menghalangi pekerjaan dari pemerintah atau negara yang melakukan tugasnya. Yang ada adalah, kliennya dan relawan melakukan klarifikasi ke kantor Satpol PP Provinsi Bali.

“Sifatnya ialah menanyakan persoalan penurunan Baliho. Bukan mengahalangi kinerjanya. Jadi penurunan baliho itu sudah selesai. Jadi klien kami ini, mengkonfirmasi atau mengklarifikasi sifatnya. Bukan menghalangi penurunan baliho loh ya,” ucap Togar.

Ditambahkan, penerapan Pasal 214 oleh polisi sangat tidak relevan. “Jika pasal pokok yang disangkakan tersebut melakukan perlawanan tugas pejabat, maka harusnya pejabat itu yang melapor. Bukan dengan model A, dimana pelapor itu sendiri adalah polisi. Apakah polisi ada pada saat itu dan di lokasi kejadiannya? Kemudian, harusnya ketika penerapan terdapat perlawanan terhadap pejabat. Kenapa kok polisi yang melapor, bukan pejabat yang bersangkutan,” tanyanya.

BACA JUGA:  Kejati Bali Didesak Hentikan Perkara Bos Paradiso

Hal lain yang disayangkan yakni proses penangkapan terhadap kliennya, dimana saat itu Ismaya hanya diundang untuk makan di KFC. “Awalnya diundang, diajak pertemuan dengan makan di KFC. Tapi kemudian dibawa ke Mapolresta Denpasar,” tutur Togar.

 

 Dugaan Penganiayaan

Untuk diketahui, kasus ini berawal dari aksi dugaan penganiayaan oleh anggota Ormas yang dipimpiin Ismaya terhadap petugas Satpol PP Provinsi Bali saat melakukan protes atas penurunan baliho, Senin (20/8/2018) sore.

Informasi di lapangan menyebutkan, protes belasan anggota ormas tersebut berawal dari penurunan baliho milik Ismaya di Jalan Tjok Agung Tresna Niti Mandala Denpasar, tepatnya di sebelah Kantor Bapenda Bali oleh petugas Satpol PP Provinsi Bali.

Tidak terima balihonya diturunkan, Ismaya dan belasan anggotanya mendatangi Kantor Satpol PP Bali, seraya menanyakan alasan penurunan baliho tersebut. Saat protes itulah diduga terjadi penganiayaan berupa tendangan yang dilakukan anggota ormas terhadap personel Satpol PP.

Massa akhirnya dibubarkan setelah salah satu pejabat Satpol PP datang dan memberikan keterangan. “Massa lalu dibubarkan Shabara Polresta Denpasar,” lanjut sumber tadi.

Selanjutnya, Polresta Denpasar mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Ismaya. Penangkapan Ismaya dilakukan di salah satu lokasi di Denpasar dan langsung dibawa ke Mapolresta Denpasar untuk menjalani pemeriksaan.

Sebelumnya Kabid Trantib Satpol PP Provinsi Bali, Dewa Nyoman Darmadi yang dikonfirmasi , wartawan mengatakan pihaknya memang ada program pembersihan atribut partai dan caleg di Civic Centre Niti Mandala Denpasar.

Pembersihan itu dilakukan berdasarkan rapat dengan KPU dan kepolisian. “Karena ini memang program pemerintah menyambut Annual Meeting IMF-World Bank di Bali. Jadi, hasil rapat 9 Agustus lalu kita lanjutkan dengan gerakan pembersihan bersama,” ujar Dewa Darmadi  (agw)